Sunday, November 13, 2011

LATAR BELAKANG PENGENDALIAN POPULASI AEDES AEGYPTI DENGAN MENGHAMBAT PERKEMBANGBIAKKAN LARVA MENGGUNAKAN PREDATOR DARI ORDO ODONATA SEBAGAI METODE PEN

Perubahan iklim dan pemanasan global dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan meningkatnya insidensi penyakit tropis. Peningkatan suhu udara dunia berperan dalam penyebaran penyakit tropis dan vektor penyakit. Penyakit tropis yang dibahas di karya tulis ilmiah ini lebih dispesifikasikan pada penyakit demam berdarah. Dimana penyakit demam berdarah ini, semakin tahun jumlah penderitanya bertambah. Hal ini dibuktikan dari data rumah sakit di provinsi Bali merawat pasien demam berdarah sebanyak 25 sampai 30 orang per hari. Bahkan, selama Januari dan Februari, di Kota Denpasar sudah mencapai 200 orang yang dirawat karena demam berdarah. Diperkirakan tahun 2011 ini, jumlah kasus tersebut akan meningkat terus karena faktor cuaca yang tidak menentu (Sutedja, 2011). Di daerah Sumenep, Jawa Timur, menurut data Dinkes, Sumenep terdapat 62 kasus demam berdarah yang terjadi pada Januari hingga awal Juli ini tersebar di 46 desa di 17 Kecamatan (Lamamul, 2011). Penyakit Demam berdarah dengue (DBD) juga masih menjadi ancaman serius bagi warga Jakarta. Hingga Maret 2011, jumlah kasus DBD di ibukota telah mencapai 1.141 kasus. Tingginya kasus DBD ini membuktikan pemprov belum serius melakukan penanganan secara sungguh-sungguh (Hidayat, 2011). Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati mengatkan, kasus DBD memang masih ada. Namun jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun (Dien, 2011). Sedangkan penyumbang virus DBD terbanyak adalah dari Surabaya dan Jakarta. Karena jumlah kasus demam berdarah di Indonesia tercatat masih tinggi, bahkan paling tinggi dibanding negara lain di ASEAN. Indonesia pun dijuluki menjadi juara demam berdarah di ASEAN (health.detik.com, 2011).
Dari beberapa kasus di atas, ini membuktikan bahwa penanganan untuk kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia belum maksimal. Hal ini menggugah kami untuk berpikir lebih dalam mengembangkan metode pencegahan yang ramah lingkungan. Meskipun ada pernyataan bahwa DBD di Indonesia sulit diberantas karena laju perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit itu cukup cepat. Upaya pemberantasan jentik nyamuk selalu kalah cepat dari perkembangbiakan nyamuk tersebut. Memang sudah banyak upaya untuk mencegah meluasnya penyakit tersebut. Namun, upaya yang dilakukan masih sangat kurang. Tindakan preventif seperti pengasapan (fogging), penaburan bubuk abate, dan sebagainya itu tidaklah cukup untuk menghambat perkembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti.
Sebenarnya Penyakit DBD yang disebar oleh nyamuk Aedes aegypti ini dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak dikelola dan dijaga kebersihannya dengan baik. Sampah seperti kaleng bekas, wadah plastik yang terbuka, bak penampung air yang tidak dikuras, dan benda-benda lain yang bisa menampung air lainnya yang banyak terdapat di pemukiman, perumahan yang bisa menampung air hujan menyebabkan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti tumbuh subur, karena nyamuk ini bertelur di air yang tertampung, menjadi jentik dan menjadi nyamuk dewasa. Dengan strategi mengembalikan ekosistem lingkungan dengan baik dan termanajemen (konservasi lingkungan) yang membutuhkan waktu dan kesadaran tinggi dari individu keberhasilannya bisa diandalkan. Selain mengembalikan ekosistem lingkungan, yang perlu dilakukan adalah menghambat pertumbuhan dari larva Aedes aegypti sebelum tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Dengan cara, menghadirkan predator dari larva Aedes aegypti ini. Predator tersebut adalah hewan dari ordo Odonata atau yang biasa disebut capung. Capung juga dikenal sebagai elang nyamuk merupakan agen pengawal yang berkesan. Larva capung (naiads) memakan jentik-jentik dalam penampungan air sementara capung dewasa pula memburu dan memakan nyamuk dewasa, terutama nyamuk harimau asia yang terbang pada waktu siang (Wikipedia, 2011).

0 komentar:

Post a Comment

BUDAYA BERKOMENTAR SANGAT BAIK... AYO BERKOMENTAR!!

Follow Twitterku

Tukar Link Blog Yuk