Diisi dulu bro sista..,,



Friday, December 9, 2011

Gue Galau


Gini nie orang yang lagi galau proposal skripsi....semua jadi kelupaan....semua gak teratur dan terarah..jam jadi padat nian...

Baru proposal udah riweh.. sama pembimbing nggak dihiraukan...masa pembimbing malah mempersulit sihh......

yang punya proyek malah santai gitu.... ntar tiba" ngejatuhin dibelakang awas aja.. gue gak akan terima banget..... prosedur tidak dijelaskan...cara"nya gimana gue harus kasih ide malah.... haduh apa kayak gini ya ikut proyek dosen??

mending gue pake judul sendiri dulu..... shit..

Kesabaranku sedang diuji..semoga bisa ditahan meski kusadari memang ada batasnya...
mau gimana lagi,, ya sudah kuungkapkan saja disini ....

maaf ya guys belum bisa isi materi disini... gue lagi sibuk skripsweet.. doakan biar lancar semuanya.. :)

Sunday, November 13, 2011

Hubungan Kondisional Lingkungan dan Perekonomian Dengan Kesehatan Reproduksi Manusia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Organ reproduksi manusia jantan terdiri dari organ genital primer dan sekunder. Organ genital primer berupa testis yang merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Spermatozoa atau sel-sel sperma merupakan sel haploid (n) yang dibentuk di dalam tubulus seminiferus dari gamet jantan melalui proses komplek yaitu spermatogenesis. Apabila bergabung dengan oosit akan membentuk zigot, dan secara normal akan berkembang menjadi embrio (Alfiah, 2011). Peran aktif spermatozoon sebagai gamet jantan penting pada keberhasilan munculnya individu baru. Standar kualitas sperma diperlukan dalam reproduksi (Yatim, 1982).
Tingkat kesuburan seorang pria dapat diukur dan dilakukan dengan cara memeriksa dan menganalisis spermanya, baik secara langsung atau menggunakan mikroskop. Analisis sperma menghasilkan parameter yang meliputi volume, pH, bau, warna, jumlah spermatozoa per mililiter, gerakan, dan bentuk spermatozoa (Surya, 2010). Dari hasil analisis sperma dapat terlihat kualitas dan kuantitas dari spermatozoa. Jika ditemukan fruktosa di dalam semen, harus dilakukan tindakan biopsi testis. Jika tidak ditemukan fruktosa di dalam semen, menunjukkan tidak adanya kelainan vesikula dan vasa seminalis yang bersifat kongenital (Syafrudin & Hamidah, 2009).
Beberapa hal yang mempengaruhi kualitas Spermatozoa antara lain adalah faktor lingkungan, pola hidup dan asupan gizi. Wonokusumo.............................................................
Berawal pada program research by learning (RBL) mata kuliah Spermatologi kali ini kami mencoba melakukan analisis lapangan ke daerah Wonokusumo untuk mengetahui dampak kondisi lingkungan, faktor ekonomi dan pola hidup masyarakat daerah setempat terhadap kesehatan reproduksi para warganya. Indikator dan parameter yang kami dapatkan meliputi penyebaran kuisioner dan juga pengambilan sampel semen warga setempat yang kemudian dianalisis di laboratorium Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Surabaya.

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kualitas spermatozoa berdasarkan pola hidup masyarakat kecamatan Wonokusumo kelurahan Ujung RW ... RT ... ?
2. Bagaimanakah kualitas spermatozoa berdasarkan asupan gizi masyarakat kecamatan Semampir Kelurahan Ujung RW .. RT ... ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui kualitas spermatozoa berdasarkan pola hidup masyarakat kecamatan Wonokusumo kelurahan Ujung RW ... RT ...
2. Untuk mengetahui kualitas spermatozoa berdasarkan asupan gizi masyarakat kecamatan Wonokusumo kelurahan Ujung RW ... RT ...

1.4. Manfaat
1. Untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam mengamati dan menganalisa sperma
2. Untuk mengetahui hubungan antara kualitas lingkungan dengan kualitas sperma

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SPERMATOZOA
Spermatozoon merupakan gamet jantan tunggal yang telah masak (melalui proses spermatogenesis) dan siap membuahi ovum. Spermatozoon berbeda pengertiannya dengan semen maupun spermatozoa. Semen merupakan nama lain dari mani yang diejakulasikan pria (terdiri dari plasma semen dan spermatozoa itu sendiri), sedangkan spermatozoa merupakan jamak spermatozoon (spermatozoon dalam jumlah yang banyak). Selama berhubungan seksual, volume semen yang biasa diejakulasikan rata-rata adalah 3,5 ml dan setiap satu ml semen rata-rata mengandung 120 juta spermatozoon. Bila diamati lebih dekat, sperma terlihat persis seperti sebuah mesin yang khusus didesain untuk mengangkut muatan genetis. Dalam muatan ini terdapat 23 kromosom yang dimiliki oleh laki-laki. Segala informasi mengenai tubuh manusia, bahkan hingga seluk-beluknya yang paling kecil, tersimpan dalam kromosom ini.
Perlu diketahui juga bahwa spermatozoon ini memiliki ukuran yang sangat kecil yaitu dengan panjang 0,05 µm, sehingga disebut sebagai sel terkecil dalam tubuh manusia.* Untuk mampu membuahi ovum, spermatozoon harus memiliki bentuk yang normal dan mampu bergerak secara progressif (lurus ke depan). Spermatozoon tersebut biasanya memiliki kemampuan berenang hingga 1-4 mm per menit. Spermatozoon harus menggetarkan ekornya lebih dari 1000 kali hanya untuk berenang 1,25 cm atau ½ inci (Siti Aisyah, 2010)

Gambar 1. Spermatozoa

Pada dasarnya, sperma memiliki bagian-bagian yang masing-masing memiliki fungsi yang mendukung proses fertilisasi dapat berlangsung. Bagian-bagian tersebut terbagi atas 3 bagian utama, yaitu:
1. Bagian Kepala
Pada bagian kepala spermatozoon ini, terdapat inti tebal dengan sedikit sitoplasma yang diselubungi oleh selubung tebal dan terdapat 23 kromosom dari sel ayah. Selubung tebal yang dimaksud adalah akrosom, fungsi dari akrosom adalah untuk melindungi, juga menghasilkan enzim. Akrosom ini mengandung enzim pembuahan yaitu hialuronidase dan akrosin. Yang masing-masing enzim tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Hialuronidase merupakan enzim yang dapat melarutkan hialuronid pada korona radiata ovum, sehingga spermatozoon dapat menembus dan membuahi ovum. Sementara akrosin merupakan enzim protease yang dapat menghancurkan glikoprotein yang terdapat di zona pellusida ovum.
2. Bagian Badan
Terdapat sebuah mitokondria berbentuk spiral dan berukuran besar, berfungsi sebagai penyedia ATP/ energi untuk pergerakan ekor.
3. Bagian Ekor
Pada bagian ekor sperma yang cukup panjang terdapat Axial Filament pada bagian dalam,& membran plasma dibagian luar yang berfungsi untuk pergerakan sperma Berupa flagella untuk pergerakan spermatozoon. Bagian ini mengandung sedikit sekali sitoplasma dan mengandung rangka poros yang disebut aksonema.

2.2 MORFOLOGI SPERMATOZOA
Morfologi yang terlihat pada mikroskop bukanlah morfologi dari spermatozoon hidup, tetapi citra yang kita buat. Citra ini tergantung pada beberapa faktor, seperti : spermiogenesis, transport sperma, pematangan, aging, lamanya di plasma semen, teknik pengecatan, fiksasi, pewarnaan maupun kualitas mikroskop yang dipergunakan.
Pewarnaan dan pengecatan dengan kualitas tinggi sangat penting ketika melakukan morfologi sperma. Setiap spermatozoon tanpa ”cacat” secara morfologi adalah normal, diluar itu adalah abnormal.
Evaluasi yang dilakukan meliputi : kepala, midpiece, dan ekor spermatozoa.
Kriteria morfologi sperma disebut normal bila :

Gambar 2. Spermatozoa Normal

• Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3nya, panjang 3-5 mikron, lebar ½ s/d 2/3 panjangnya.
• Midpiece : langsing (< ½ lebar kepala), panjang 2x panjang kepala, dan berada dalam satu garis lengan sumbu panjang kepala.
• Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 x panjang kepala.

Spermatozoa Abnormal



Istilah-istilah yang dipakai pada bentuk yang abnormal adalah :
a. Makro : 25 % > kepala normal
b. Mikro : 25 % < kepala normal
c. Taper : kurus, lebar kepala ½ yng normal, tidak jelas batas akrosom, memberi gambaran cerutu
d. Amorf : Bentuk kepala yg ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom
e. Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
f. Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah
g. Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda
h. Bentuk normo, spermatozoa dengan kepala oval
i. Bentuk piri, spermatozoa dengan bentuk kepala seperti buah pir
j. Bentuk lepto, spermatozoa dengan bentuk kepala kurus memanjang
k. Bentuk terato, spermatozoa dengan bentuk kepala tidak tertentu
l. Bentuk kepala dua (double head). (Anton Darsono, 2010)

Morfologi bagian lain, meliputi pengamatan terhadap adanya :
a. Midpiece defect, spermatozoa dengan sisa sitoplasma didaerah lehernya
b. Cytoplasmic droplet, spermatozoa yang bagian ekornya masih mengandung sisa sitoplasma
c. Kelainan ekor, meliputi ekor yang melingkar tertekuk tajam, bercabang dan putus

Spermatozoa disebut mempunyai kualitas bentuk yang cukup baik bila ≥ 50% spermatozoa mempunyai morfologi normal. Bila > 50% spermatozoa mempunyai morfologi abnormal, maka keadaan ini di sebut teratozoospermia.

2.3 ANALISIS SEMEN
Analisis semen merupakan suatu pemeriksaan yang dapat menentukan penyebab infertilitas. Masturbasi merupakan metode umum untuk memperoleh spesimen. Cara ini merupakan metode yang paling dianjurkan untuk memperoleh sperma, biasanya dengan tangan (baik tangan sendiri maupun tangan istrinya) atau dengan suatu alat tertentu. Kebaikan cara ini menghindari kemungkinan tumpah ketika menampung sperma, menghindari dari pencemaran sperma dengan zat-zat yang lain.
Parameter-parameter sperma dapat dinyatakan secara :
1. Kuantitatif, misalnya volume, jumlah spermatozoa/ml, kadar fruktosa.
2. Semi kuantitatif, misalnya viskositas sperma, motilitas spermatozoa.
3. Kuantitatif, misalnya bau dan warna sperma.
Yang akan dibahas berikut adalah pemeriksaan parameter-parameter sperma pada analisa sperma dasar Analisis sperma dasar dilakukan menurut tahapan sebagai berikut :
a. Pemeriksaan makroskopis.
Segera setelah sperma diejakulasikan, hendaknya diamati :
1. Ada/tidaknya koagulum
2. Warna sperma
3. Bau sperma
4. Proses likuefaksi sperma
Setelah proses likuefaksi selesai, ditentukan parameter sebagai berikut :
1. Volume sperma
2. pH sperma
3. Warna sperma
4. Viskositas sperma

b. Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan setelah proses likuefaksi selesai.
Pemeriksaan ini meliputi :
1. Motilitas spermatozoa
2. Jumlah spermatozoa
3. Morfologi spermatozoa
4. Viabilitas spermatozoa
5. Aglutinasi spermatozoa

c. Jumlah spermatozoa/ml
Jumlah spermatozoa/ml yang menjadi pegangan untuk dikatakan cukup, kurang ataupun berlebih adalah 20 juta/ml. Istilah yang dipakai adalah sbb :
a) 0 Juta/ml disebut Azoospermia
b) 0 - 5 juta/ml disebut Ekstrimoligozoospermia
c) < 20 juta disebut oligozoospermia
d) 250 Juta/ml disebut Polizoospermia
e) Jumlah spermatozoa 20 – 250 juta/ml sudah dianggap masuk dalam batas-batas yang normal.
d. PROSENTASE SPERMATOZOA MOTIL
Kualitas pergerakan spermatozoa disebut baik bila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik atau sangat baik (grade II/III). Gradasi menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut:
a) 0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
b) 1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat
c) 2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat
d) 3 = spermatozoa bergerak ke depan sangat cepat
e) Bila spermatozoa yang motil kurang dari 50%, maka spermatozoa disebut astenik. Istilah yang digunakan adalah Astenozoospermia.
f) Bila sperma immotil > 50 % maka dilakukan uji viabilitas (vitality test)

Gambar 4. Viabilitas Spermatozoa

Secara umum parameter sperma normal adalah sebagai berikut :
Volume : 2 ml atau lebih
pH : 7,2 – 8
Bau : Khas
Warna : Kelabu pucat
Konsentrasi : 20 juta per mililiter
Gerakan : Sebesar 50% atau lebih cenderung bergerak ke depan
Bentuk : Sebesar 30% atau lebih normal atau kurang dari 20% abnormal
Sumber: Surya Gunawan, 2010. Dan Baziad A.S., 2003, Endokrinologi Ginekologi

BAB III
CARA KERJA

I. Pada saat di lapangan
1. Meminta izin pada ketua RT/RW setempat.
2. Meyebarkan lembar kuesioner kepada warga setempat.
3. Meminta izin kepada warga yang mau di minta sample urin dan semen.
4. Mengambil sample urin dan semen untuk di perikasa di laboratorium.

II. Pada saat di Laboratorium
A. Pemeriksaan secara makroskopis
Pemeriksaan makroskopis meliputi pemeriksaan volume, pH warna, bau dan viskositas.
1. Volume diukur dengan gelas ukur yang berskala 0,1 ml.
2. pH diperiksa dengan kertas lakmus dengan pH 6,6 - 8,0. secara normal semen bersifat basa (ph 7,2-7,4). Jika pH bersifat sangat asam (pH<6) menunjukkan adanya kegagalan sekresi kelenjar asesoris, tetapi jika pH sangat basa (pH>8) menunjukkan adanya infeksi saluran reproduksi.
3. Bau dibedakan atas bau khas, amis, dan busuk.
4. Warna dibedakan atas warna putih keruh (kekuningan), putih keabuan dan putih kemerahan.
5. Viskositas atau kekentalan ditentukan dengan pipet Eliasson dan stop watch atau dapat juga secara kualitatif.

B. Pemeriksaan secara mikroskopis
Bahan Dan Alat:
1. Semen manusia
2. Gelas obyek cekung
3. Pipet
4. Mikroskop cahaya
5. Stop watch
6. Hemositometer
7. Counter
8. Gelas obyek dan gelas penutup
9. Bunsen dan spirtus
10. Kertas tissue gulung
11. Zat warna Eosin 1% dan Nigrosin 10%

1. Motilitas Spermatozoa
Pengamatan secara langsung, dilakukan berdasarkan petunjuk dari WHO (1992) dengan mekanisme sebagai berikut.
Kategori A : spermatozoa bergerak cepat ke depan
Kategori B : spermatozoa bergerak cepat atau lambat dan tidak beraturan
Kategori C : spermatozoa bergerak ditempat
Kategori D : spermatozoa tidak bergerak
Dari keempat kategori tersebut, spermatozoa dikatakan normal bila:
kategori A > 25% dan
B > 25% atau
(A + B) > 50% dalam 60 menit setelah dikoleksi.

2. Viabilitas dan Morfologi
Cara Kerja
a) Satu tetes suspensi spermatozoa + 1 tetes Eosin 1% + 1 tetes Nigrosin 10% diletakkan dalam gelas obyek, dihomogenkan dan dibuat hapusan, kemudian dikering anginkan (2-4 menit).
b) Viabilitas spermatozoa dapat diamati di bawah mikroskop cahaya pembesaran 400x. Spermatozoa yang berwarna merah menunjukkan spermatozoa yang mati dan sebaliknya yang tidak berwarna adalah yang hidup. Hitunglah persentase spermatozoa yang hidup dan mati.
c) Morfologi spermatozoa diamati dibawah mikroskop cahaya 100x dan 400x. Hitunglah persentase spermatozoa yang normal dan tidak normal.

3. Jumlah Spermatozoa, Leukosit dan Eritrosit
Cara Kerja
1) jumlah spermatozoa dihitung dengan cara suspensi spermatozoa sebanyak 1 ml diletakkan di atas gelas hemositometer, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Jumlah spermatozoa dihitung di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 x.
2) Jika spermatozoa terlalu padat, perlu dilakukan pengenceran (10x) dengan cara menggunakan pipet hemositometer, hisaplah suspensi spermatozoa hingga menunjukkan angka 1, setelah itu hisaplah larutan fisiologis (NaCl) (untuk mengencerkan) hingga menunjukkan angka 11. Homogenkan lalu diletakkan di atas gelas hemositometer, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Jumlah spermatozoa dihitung di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 x.
3) Hal ini (cara no.2) juga dilakukan untuk menghitung leukosit dan eritrosit, namun sebelumnya dilakukan pengukuran pengenceran terlebih dahulu menggunakan tabung atau pipet dari hemositometer (cara pengukurannya lihat pada petunjuk praktikum Fisiologi Hewan)
4) Cara menghitung spermatozoa adalah sebagai berikut:
a. Suspensi spermatozoa diletakkan ke dalam kamar hitung (hemositometer)
b. Hindari terbentuknya gelembung udara pada saat menutup kamar hitung dengan gelas penutup
c. Bilik hemositometer yang digunakan adalah bilik yang besar (ada 4 bilik: atas kiri dan kanan, bawah kiri dan kanan), kecuali untuk menghitung eritrosit menggunakan bilik kecil (ada 5 bilik).
d. Spermatozoa yang dihitung adalah spermatozoa yang terletak di bagian tengah dan tepi bilik (sebelah atas dan kiri bilik), sedang spermatozoa yangterletak di tepi bilik bagian kanan dan bawah tidak dihitung.
e. Rata-rata jumlah spermatozoa (n) diperoleh dari total penjumlahan spermatozoa yang ada di setiap bilik dibagi 4
f. Panjang setiap bilik adalah 1 mm dan tinggi 0,1 mm, sehingga volume bilik = 0,1 mm3 (1,0 mm2 x 0,1 mm atau 1,0 x 10-4 ml)
g. Jumlah spermatozoa dihitung dengan rumus jumlah sel/ml = jumlah spermatozoa (n) x 104 x faktor pengenceran

4. Aglutinasi
Cara Kerja
1) Satu tetes supernatan diletakkan dalam gelas obyek cekung kemudian diamati dibawah mikroskop cahaya 100x.
2) Hitung jumlah spermatozoa yang mengalami aglutinasi (bergerombol) dengan interval waktu 60, 75, 90, 105, dan 120 menit setelah ejakulasi.
3) Aglutinasi spermatozoa dapat terjadi antara: bagian kepala-kepala, ekor-ekor dan kepala-ekor.
4) Ulangi penghitungan 10 kali.

Beberapa Istilah Dalam Analisis Kualitas Spermatozoa:
a. Azoospermia, tidak terdapat spermatozoa dalam ejakulat, setelah sentrifuge.
b. Extreem oligo, jumlah spermatozoa kurang dari 5 juta per ml ejakulat
c. Oligospermia, jumlah spermatozoa antara 5-<20 juta per ml ejakulat
d. Asthonospermia, jumlah spermatozoa yang bergerak baik kurang dari 50%
e. Teratospermia, jumlah spermatozoa normal kurang dari 50%
f. Necrospermatozoa, smua spermatozoa mati
g. Leukospermia, sperma mengandung leukosit lebih dari 1200/mm3
h. Haemospermia, terdapat eritrosit dalam ejakulat
i. Normospermia, spermatozoa 20 juta/ml ejakulat, motilitas 50% atau lebih, spermatozoa normal 50% atau lebih
j. Hypospermia, volume ejakulat kurang dari 1 ml
k. Hyperspermia, volume ejakulat lebih dari 6 ml

Cara Kerja
1. Satu tetes supernatan diletakkan dalam gelas obyek cekung kemudian diamati dibawah mikroskop cahaya 100x.
2. Hitung persentase motilitas spermatozoa (dari 100 spermatozoa) dengan menggunakan kategori dari WHO.


BAB IV
HASIL DAN ANALISIS DATA

Hasil pengamatan
A. Pengamatan makroskopis
Gang Volume Bau (Keruh) Warna (Putih keruh) pH Viskositas replikasi ke-
1 2 3 4 5
8 2,4 ml + +++ 7,5 20:46 01:17 01:09 01:21 00:47
9 1,6 ml +++ + 8,5 03:31 02:41 01:49 00:51 02:49

B. Pengamatan mikroskopis
Aglutinasi
Gang Replikasi ke- Aglutinasi (menit)
45 60 75 90 105
8 1 7 8 1 - -
2 5 3 1 - -
3 7 2 1 - -
4 7 1 - - -
5 8 - 2 - -
Rata-Rata 6,8 2,8 1 0 0
9 1 7 6 3 - -
2 8 5 2 - -
3 9 4 2 1 -
4 10 5 3 - -
5 8 5 2 - -
Rata-Rata 8,4 5 2,4 0,2 0


Motilitas
Gang Replikasi ke- Jenis motilitas Total
A B C D
8 1 43 15 7 35 100
2 50 17 15 18 100
3 46 15 5 34 100
4 36 11 13 40 100
5 42 12 16 30 100
Total 217 70 56 157
Rata-Rata 43,4 14 11,2 31,4
9 1 29 26 29 17 100
2 40 31 22 7 100
3 47 35 177 1 100
4 36 37 16 11 100
5 38 41 14 7 100
Total 190 170 258 43
Rata-Rata 38 34 51.6 8.6

Jumlah
Gang Replikasi ke- Pengamatan pada Jumlah Rata-rata
Kanan-atas Kiri-atas Kanan-bawah Kiri-bawah
8 1 1.272 1.242 918 1.434 4866 1216,5
2 632 460 632 468 2192 574,67
3 202 85 81 84 452 122,67
4 211 118 120 145 594 149,67
5 83 109 113 85 390 101,67
408,502
9 1 16 19 25 32 92 20
2 119 123 37 98 377 93
3 20 20 30 26 96 23,33
4 40 21 13 23 97 24,67
5 11 15 14 25 65 13,33
34,87


Morfologi
Gang Replikasi ke- Jenis spermatozoa
normal tidak normal
8 1 85 1
2 31 -
3 39 3
4 24 -
5 19 -
Rata-Rata 39,6 0,8
9 1 18 -
2 16 -
3 24 -
4 27 -
5 30 -
Rata-Rata 22,4 0


Viabilitas
Gang Replikasi ke- Keadaan spermatozoa
mati hidup
8 1 30 13
2 16 8
3 18 6
4 19 9
5 25 11
Rata-Rata 21,6 9,4
9 1 22 10
2 11 5
3 20 3
4 25 4
5 25 7
Rata-Rata 20,6 5,8







BAB V
PEMBAHASAN


BAB VI
KESIMPULAN
Dari hasil research by learning (RBL) yang telah kami lakukan melalui pengambilan beberapa sampel semen warga di daerah RW ..... kelurahan Ujung kecamatan Wonokusumo didapatkan kesimpulan bahwa kualitas spermatozoa ......


























DAFTAR PUSTAKA

Hayati, A., A. Devi and I.B. Rai Pidada. 2005. Spermatozoa Motility and Morphological Recovery Process in Mice after The Induction of 2-Methoxyethanol, Folia Medica Indonesian. Vol. 41, 2: 90-95.
Hayati, Alfiah. 2010. Spermatologi Bahan Ajar. Surabaya : Departemen Biologi Universitas Airlangga
Syafrudin, Hamidah. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Gunawan, Surya. 2010. Mau Anak Laki-Laki Atau Perempuan. Jakarta Selatan : PT. Agromedia Pustaka.
Anonimus. 2009. Analisis Sperma. http://syl4r.blogspot.com/2009/01/analisis-sperma.html (diakses pada tanggal 31 Mei 2011)
Rifal, M. 2009. Analisis Sperma. http://korek-obgin.blogspot.com/2009/12/analisis-sperma_14.html (diakses pada tanggal 4 Juni 2011).
Darsono, Anton. 2010. Analisa Spermatozoa. http://klinikandrologi.blogspot.com/2008/06/membaca-hasil-analisa-sperma.html (diakses pada tanggal 12 Juni 2011).
Gozali, Amir. 2009. Analisa Sperma. http://infoanalis.blogspot.com/2009/01/analisa-sperma.html (diakses pada tanggal 12 Juni 2011).
Darsono, Anton. 2010. Morfologi Spermatozoa. http://analisasperma.blogspot.com/2010/12/interpretasi-hasil.html (diakses pada tanggal 12 Juni 2011).

Biodiversitas Jeruk Manis di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia yang termasuk negara tropis berada pada kawasan yang dilalui garis katulistiwa merupakan habitan yang mendukung pertumbuhan buah jeruk, dan dapat ditanami buah jeruk hingga ketinggian 2.000 m dpl, dengan temperature optimal pertumbuhannya antara 25-30oC (Pracaya, 1992). Potensi dan peluang pengembangan tanaman jeruk manis di Indonesia sangat besar, baik ditinjau dari potensi lahan, keragaman jenis, maupun dari aspek petani dan teknologi. Diketahui bahwa buah jeruk manis memiliki prospek ekonomi yang lebih baik bila dijual tidak hanya dalam bentuk buah segar, ditambah lagi karena kulitnya lebih sukar dikupas dibandingkan dengan jeruk keprok diadakan produk olahan yang dapat dikembangkan antara lain bahan pewarna, tepung kulit buah, juice, cocktail dan sirup buah jeruk. Produk olahan yang memiliki prospek ekonomi dari sisi profit yang terbesar adalah sirup buah dan cocktail. Sedangkan dari sisi pemanfaatan produk samping (kulit buahnya) masih memerlukan banyak kajian ulang (Kastaman, 2007).
Sesudah perang dunia ke II di Indonesia telah banyak ditanaman varietas jeruk manis, tetapi akhir-akhir ini tanaman jeruk tidak begitu pesat perkembangannya. Penyebabnya bermacam-macam, di antaranya karena serangan penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), penyakit akar, pemasarannya pun kalah dengan jeruk keprok, jeruk siem, dan lain-lain.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagamana distribusi jeruk manis (Citrus aurantium L.) di Indonesia ?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jeruk manis (Citrus aurantium L.) di Indonesia agar produksi buahnya meningkat ?
3. Apa saja varietas jeruk manis (Citrus aurantium L.) yang ada di Indonesia ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BOTANI JERUK MANIS (Citrus sinensis L.)
A. Taksonomi
Jeruk manis, disebut juga jeruk peras, mempunyai nama ilmiah Citrus sinensis (L.) Osbeck. Sinonim : Citrus aurantium L. var. sinensis L. Jeruk manis ini termasuk dalam klasifikasi berikut ini :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
Genus : Citrus
Spesies : Citrus sinensis (L.) Osbeck
Banyak jeruk yang dikawinsilangkan sehingga terjadi hibrid, di antaranya yaitu mandarin dikawinkan dengan jeruk manis menghasilkan jeruk tangor, Poncirus dikawinkan dengan jeruk manis menghasilkan jeruk citrange.

B. Morfologi
jeruk manis termasuk kelas Dicotyledoneae (berkeping dua), mempunyai ciri-ciri :
 Dapat hidup bertahun-tahun
 Perakarannya dalam
 Mempunyai akar tunggang dan akar serabut
 Dapat dikembangkanbiakkan secara vegetatif (cangkok) maupun generatif (dengan biji)
 Mahkota daun bulat dan
 Kerimbunan sedang.
Buah jeruk manis berukuran besar, tangkainya kuat. Bentuknya bulat, bulat lonjong, atau bulat rata (papak) dengan bagian dasar bulat, ujungnya bulat atau papak, bergaris tengah 4-12 cm. buah yang masak berwarna oranye, kuning, atau hijau kekuningan, berbau sedikit harum, agak halus, tidak berbulu, kusam, dan sedikit mengilat. Kulit buah tebalnya 0,3 – 0,5 cm, dari tepi berwarna kuning atau oranye tua dan makin ke dalam berwarna putih kekuningan sampai putih, berdaging, dan kuat melekat pada dinding buah. Di dalam kulit buah ada segmen (bagian buah) yang jumlahnya 8-13 buah mengelilingi sumbu yang kuat. Setiap segmen mempunyai kulit tipis, kuat, putih transparan (jernih), dan melekat satu sama lain dengan kuat. Di dalam segmen segmen ada daging (pulp) yang berwarna kuning, oranye kekuningan, atau kemerahan. Berbau sedikit harum, rasanya manis atau sedikit asam tetapi segar. Pulp itu terdiri dari gelembung kecil yang kedua ujungnya runcing atau tumpul, berisi cairan, dan letaknya bebas. Kelopak buah berbentuk seperti bintang dengan 3-6 segmen berbentuk segitiga, bergaris tengah 1-1,5 cm.

C. Komposisi Buah
Komposisi buah jeruk manis terdiri dari bermacam-macam, diantaranya air 70-92% (tergantung kualitas buah), gula, asam organik, asam amino, vitamin, zat warna, mineral, dan lain-lain.





BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Distribusi Jeruk Manis di Indonesia
Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis berasal dari Asia Timur.
Buah ini berasal dari banyak tempat di sekitar Mediterania, dari Afrika dan Brasil. Tempat asalnya adalah India, Tiongkok Selatan dan Indonesia. Pelaut Portugis membawa buah-buahan ini ke Eropa untuk pertama kalinya pada abad 17.
Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Jeruk manis (Citrus aurantium L.) berasal dari India timur laut, Cina selatan, Birma utara, dan Vietnam. Pada saat sekarang jeruk manis sudah banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis.
Distribusi jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu dan Pacitan (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi. Dimana Indonesia menghasilkan 78.674 MT. Namun untuk area produksi di Jawa Timur, utamanya jeruk manis banyak dihasilkan dari kawasan Malang (BPS, 2008).
Sedangkan Pacitan adalah kota pertama, sebagai potensi atau peluang yang cukup menjanjikan dalam pengembangan usaha pertanian jeruk manis ini, dilihat dari keuntungan yang diterima. Kedua dari segi ekonomis Jeruk Manis Pacitan memiliki nilai jual yang relatif cukup tinggi. Ketiga jeruk manis memiliki nilai tambah dari hasil pengolahannya menjadi minuman sari buah Jeruk Manis Pacitan.

3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jeruk Manis (Citrus Aurantium L.) di Indonesia Dalam Peningkatan Hasil Produksi Buah.
Pertumbuhan jeruk manis di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil produksi buahnya. Tanaman jeruk manis, dan juga jeruk manis lainnya, dapat di tanam di daerah antara 400 LU dan 400 LS. Namun tanaman jeruk paling banyak terdapat di daerah 200 - 400 LU dan 200 - 400 LS. Di sekitar Laut Tengah, daerah 440 LU, masih merupakan daerah yang cocok untuk tanaman jeruk. Jeruk manis tumbuh dan menghasilkan buah dengan baik jika ditanam pada daerah subtropis dengan suhu optimal 250-300C. Di atas dan di bawah temperatur optimal pertumuhannya akan berkurang. Apabila temperatur di atas 380C atau di bawah 130C kemungkinan pertumbuhannya akan terhenti. Namun, ada juga tanaman jeruk yang masih bisa bertahan sampai temperatur 500C atau sedikit di bawah 00C. Di daerah subtropis, produksi jeruk lebih tinggi dari pada di daerah tropis. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh iklim yang berbeda atau karena faktor-faktor lain yang dilakukan lebih intensif, seperti pemupukan, pengairan, pengendalian hama penyakit dan lain-lain. Menurut Savage, produksi jeruk di daerah subtropis dapat mencapai 36 – 40 ton per hektar, sedangkan di daerah tropis hanya mencapai 13 – 22 ton per hektar.
Tanaman jeruk manis ditanam diberbagai jenis tanah, dari tanah pasir kasar sampai tanah liat berat. Tanah tidak boleh tergenang air. Didaerah yang tergenang air harus segera dikeringkan, atau menanamnya pada tanah yang ditinggikan. Drainase yang baik sangat perlu untukmemperoleh hasil yang tinggi. Tanah yang baik untuk tanaman jeruk yaitu bila berasal dari endapan yang subur, cukup dalam dan tidak beragam. Walaupun tanaman jeruk bisa ditanam ditanah berat, tetapi lebih baik bila ditanam di tanah ringan sampai sedang, yang erasi (peredaran udara) cukup baik, gembur, cukup dalam, air bisa merembes, dan cukup bahan organik.
Sinar matahari memiliki peranan penting dalam kehidupan tanaman jeruk. Tanaman jeruk memerlukan sinar matahari yang penuh, bila terlindung akan berkurang produksinya. Tanaman jeruk bisa menghasilkan buah yang lumayan bila memperoleh sejumlah panas tertentu. Jeruk manis Navel dan Valencia memerlukan jumlah panas yang sedang; jeruk peras grape fruit memerlukan jumlah panas yang tinggi; jeruk Eureka dan Lisbon (kultivar lemon) memerlukan jumlah panas yang rendah.
Di daerah subtropis, tanaman jeruk manis pada umumnya di tanam di daerah yang lebih rendah. Seagai contoh di daerah California, jeruk di tanam di daerah dengan ketinggian kurang dari 700 m, di Spanyol kurang dari 250 m, sedangkan di Indonesia banyak di tanam di daerah yang tinggi, misalnya di daerah Kabanjahe, Ngablak, Tawangmangu yang ketingginnya lebih dari 1000 m.
Air merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman jeruk manis, pembentukan buah, fotosintesis, dan lain lain. Air sebagai komponen semua jaringan tanaman. KAndungan air pada daun dan tunas sekitar 50% – 70%, pada buah lebih kurang 85%, dan pada akar kira-kira 60% - 85%. Air melarutkan unsur hara dan membawanya ke seluruh tubuh tanaman.Selain itu air diperlukan untuk memelihara turgor tanaman, mengatur kedaan panas tanaman, dan berperan serta dalam pembentukan tubuh tanaman dan aktivitas kehidupan sel-sel dalam semua jaringan tanaman.
Curah hujan sekurang-kurangnya 700 mm tiap tahun, yang baik bila merata. Walaupun curah hujan 1.250 – 1.850 mm tetapi kalau turunnya tidak merata, maka perlu adanya tambahan pengairan. Bila hujan terlalu banyak mungkin juga akan timbul penyakit (misalnya jamur upas), atau tergenang terlalu lama sehingga tanaman dapat mati.
Kebun jeruk yang sering dilanda angin yang cukup besar, perlu ditanami tanaman penahan angin. Angin dengan kecepatan 24 – 32 km per jam menyebabkan buah jeruk seperti tergores; kecepatan 40 – 48 km per jam buah akan terguncang-guncang, mungkin juga ada yang rontok; kecepatan 48 – 64 km per jam buah yang masak akan rontok semua. Untuk menghindari hembusan angin, sebaiknya di sekeliling kebun ditanami tanaman penahan angin. Tanaman penahan angin tersebut ditanam terlebih dahulu dari pada tanaman jeruk sehingga dapat melindugi tanaman dari hembusan angin.
Dengan memenuhi sesuai aturan dan beberapa faktor seperti diatas maka diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi buah jeruk manis. Sehingga komoditas jeruk manis di Indonesia meningkat dan distribusinya berkembang dengan baik.

3.3 Varietas Jeruk Manis
Jeruk manis dibagi menjadi 4 golongan, yaitu jeruk manis biasa (common orange, blond orange), jeruk manis pusar (navel orange), jeruk manis merah darah (pigmented orange) dan jeruk manis tidak asam (acidless orange).
Varietas jeruk manis cukup banyak, diantaranya jeruk manis nanas, puser, merah data, tidak asam, batu, Hamlin, Shamouti, Tenerife, Thomson, Australia, Brasil, dan Sunkist. Seringkali jeruk manis disebut pula dengan nama daerah asalnya, misalnya jeruk manis batu karena asalnya dari Batu (Pracaya, 2003).
Menurut AKK (1994) jenis-jenis jeruk yang ada di Indonesia cukup banyak, antara lain sebagai berikut :
1. Jenis jeruk manis (Citrus aurantium L.)
2. Jenis jeruk keprok (Citrus reticula Blaco atau Citrus nobilis)
3. Jenis jeruk besar (Citrud maxima Merr, Citrus grandis Osbeck)
4. Jenis jeruk lemon (Citrus limon Linn)
5. Jenis jeruk lime (Citrus aurantifolia Swingle)
6. Jenis jeruk sitrun (Citrus medica Limnaeus)
7. Jenis jeruk grape fruit (Citrus paradisi Mactadijen)
8. Jenis jeruk hybrid.


BAB IV
KESIMPULAN

1. Distribusi jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu dan Pacitan (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara).
2. Pertumbuhan, hasil produktivitas dan distribusi jeruk manis dipengaruhi oleh iklim, temperatur, tingkat penyinaran matahari, curah hujan, kelembaban, air dan angin.
3. Jeruk manis tumbuh dan menghasilkan buah dengan baik jika ditanam pada daerah subtropis dengan suhu optimal 250-300C dibandingkan dengan jeruk manis yang ada di daerah tropis.
4. Varietas jeruk manis menurut Pracaya (2003) ada 11 varietas. Sedangkan menurut AKK (1994) ada 8 varietas.



DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16346/3/Chapter%20II.pdf diakses pada tanggal 15 April 2011. http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=168:lahan-untuk-usaha-tani-tanaman-jeruk&catid=45:buletin-volume-i-nomor-i-tahun-2006&Itemid=53 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://health.groups.yahoo.com/group/dokter_umum/message/17633 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/Citrus_%C3%97_sinensis diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://www.epochtimes.co.id/keluarga.php?id=418 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://student-research.umm.ac.id/index.php/dept_of_agribisnis/article/view/1547 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20jeruk.pdf diakses pada tanggal 15 April 2011.

Tukar Link Blog Yuk

MyStat

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes