Pages

Showing posts with label biologi. Show all posts
Showing posts with label biologi. Show all posts

Monday, May 20, 2013

Proses Terbentuknya janin laki-laki dan perempuan



Proses terbentuknya janin laki-laki dan perempuan dimulai dari deferensiasi gonad. Awalnya sel sperma yang berkromosom Y akan berdeferensiasi awal menjadi organ jantan dan yang X menjadi organ betina. Deferensiasi lanjut kromosom Y membentuk testis sedangkan kromosom X membentuk ovarium. Proses deferensiasi menjadi testis dimulai dari degenerasi cortex dari gonad dan medulla gonad membentuk tubulus semineferus. Di celah tubulus sel mesenkim membentuk jaringan intertistial bersama sel leydig. Sel leydig bersama dengan sel sertoli membentuk testosteron dan duktus muller tp duktus muller berdegenerasi akibat adanya faktor anti duktus muller, testosteron berdeferensiasi menjadi epididimis, vas deferent, vesikula seminlis dan duktus mesonefros. Karena ada enzim 5 alfareduktase testosteron berdeferensiasi menjadi dihidrotestosteron yang kemudian pada epitel uretra terbentuk prostat dan bulbouretra. Selanjunya mengalami pembengkakan dan terbentuk skrotum. Kemudian testis turun ke pelvis terus menuju ke skrotum. Mula-mula testis berada di cekukan bakal skrotum saat skrotum mkin lmamakin besar testis terpisah dari rongga pelvis.

Sedangkan kromosom X yang telah mengalami deferensiasi lanjut kemudian pit primer berdegenerasi membentuk medula yang terisi mesenkim dan pembuluh darah, epitel germinal menebal membentuk sel folikel yang berkembang menjadi folikel telur. Deferensiasi gonad jadi ovarium terjadi setelah beberapa hari defrensiasi testis. Di sini cortex tumbuh membina ovarium sedangkan medula menciut. PGH dari placenta mendorong pertumbuhan sel induk menjadi oogonia, lalu berplorifrasi menjadi oosit primer. Pada perempuan duktus mesonefros degenerasi. Saat gonad yang berdeferensiasi menjadi ovarium turun smpai rongga pelvis kemudian berpusing sekitar 450 letaknya menjadi melintang.
Penis dan klitoris awalnya pertumbuhannya sama yaitu berupa invagina ectoderm. Klitoris sebenarnya merupakan sebuh penis yang tidak berkembang secara sempurna. Pada laki-laki evagina ectoderm berkembang bersama terbawanya sinus urogenitalis dari cloaca.

Pengeluaran Bayi
Kelahiran bayi dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama, proses persiapan persalinan. Dalam tahap ini terjadi pembukaan (dilatasi) mulut rahim sampai penuh. Selanjutnya, tahap kedua adalah kelahiran bayi yang keluar dengan selamat. Tahap ketiga, pengeluaran plasenta. Tahap berikutnya adalah observasi terhadap ibu selama satu jam usai plasenta keluar.
Tahapan yang pertama adalah kontraksi. Ini biasanya fase paling lama. Pembukaan leher rahim (dilatasi) sampai 3 cm, juga disertai penipisan (effasi). Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa hari, bahkan beberapa minggu, tanpa kontraksi berarti (kurang dari satu menit). Tapi pada sebagian orang mungkin saja terjadi hanya 2-6 jam (atau juga sepanjang 24 jam) dengan kontraksi lebih jelas. Setelah itu leher rahim akan semakin lebar.Umumnya fase ini lebih pendek dari fase sebelumnya, berlangsung sekitar 2-3 jam. Kontraksi kuat terjadi sekitar 1 menit, polanya lebih teratur dengan jarak 4-5 menit. Leher rahim membuka sampai 7 cm.
Secara umum dan normal, pembukaan leher rahim akan terus meningkat dengan kontraksi yang makin kuat. Terjadi 2-3 menit sekali selama 1,5 menit dengan puncak kontraksi sangat kuat, sehingga ibu merasa seolah-olah kontraksi terjadi terus-menerus tanpa ada jeda.
Pembukaan leher rahim dari 3 cm sampai 10 cm terjadi sangat singkat, sekitar 15 menit sampai 1 jam. Saat ini calon ibu akan merasakan tekanan sangat kuat di bagian bawah punggung. Begitu pula tekanan pada anus disertai dorongan untuk mengejan. Ibu pun akan merasa panas dan berkeringat dingin.
Posisi calon ibu saat melahirkan turut membantu lancarnya persalinan. Posisi setengah duduk atau setengah jongkok mungkin posisi terbaik karena posisi ini memanfaatkan gaya berat dan menambah daya dorong ibu.

Pengeluaran plasenta
Rasa lelah ibu adalah hal yang tersisa ketika bayi sudah keluar, tapi tugas belum berakhir. Plasenta yang selama ini menunjang bayi untuk hidup dalam rahim harus dikeluarkan.
Mengerutnya rahim akan memisahkan plasenta dari dinding rahim dan menggerakkannya turun ke bagian bawah rahim atau ke vagina. Ibu hanya tinggal mendorongnya seperti halnya mengejan saat mengeluarkan bayi. Hanya saja tenaga yang dikeluarkan tak sehebat proses pengeluaran bayi. Apabila plasenta telah keluar, akan segera dijahit robekan atau episiotomi sehingga kembali seperti semula.

Rujukan:
Corebima, AD. 1997. Genetika Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press
Hamilton, W.J dkk. 1957. Human Embryology. Cambridge: W. Heffer % Sans Limited.
Moore, Keith L. 1988. The Developing Human. Canada: W.B Saunders Company.
Sudarwati, Sri.dkk. 1990. Dasar-Dasar Struktur dan Perkembangan Hewan. Bandung: Penerbit ITB
Tenzer, A dkk. 2001. Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang: JICA UM Malang.
Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito Penerbit buku 

Perkembangan Janin di Rahim




Pembelahan
Menurut yatim (1990:155) pada manusia pembelahan terjadi secara holobastik tidak teratur. Dimana bidang dan waktu tahap-tahap pembelahan tidak sama dan tidak serentak pada berbagai daerah zigot. Awalnya zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi tingkat 3 sel, kemudian tingkat 4 sel, diteruskan tingkat 5 sel, 6 sel, 7 sel, 8 sel, dan terus menerus hingga terbentuk balstomer yang terdiri dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif yang disebut morula.
Pembelahan atau segmentasi terjadi setelah pembelahan. Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil yang disebut blastomer. Pembelahan itu bias meliputi seluruh bagian, bias pula hanya sebagian kecil zigot. Pembelahan ini terjadi secara mitosis. Bidang yang ditempuh oleh arah pembelahan ketika zigot mengalami mitosis terus-menerus menjadi banyak sel, disebut bidang pembelahan. Ada 4 macam bidang pembelahan yaitu meridian, vertical, ekuator dan latitudinal

Blastulasi dan Nidasi
Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan blastula disebut blastulasi.
Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk dan berlangsung selama 5 hari. Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus. Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah fertilisasi embryo akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embryo pada endometrium uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12 hari setelah fertilisasi (Yatim, 1990: 136)
Gastrulasi
Menurut Tenzer (2000:212) Setelah tahap blastula selesai dilanjutkan dengan tahap gastrulasi. Gastrula berlangsung pada hari ke 15. Tahap gastrula ini merupakan tahap atau stadium paling kritis bagi embryo. Pada gastrulasi terjadi perkembangan embryo yang dinamis karena terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan pengorganisasian embryo dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula terletak berjauhan, sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interkasi yang bersifat merangsang dalam pembentukan sistem organ-organ tbuh. Gastrulasi ini menghasilkan 3 lapisan lembaga yaitu laisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm disebelah tengah dan ectoderm di sebelah luar.
Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari spesies yang bersangkutan.
Tubulasi
Tubulasi adalah pertumbuhan yang mengiringi pembentukan gastrula atau disebut juga dengan pembumbungan. Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyusun diri sehingga berupa bumbung, berongga. Yang tidak mengalami pembumbungan yaitu notochord, tetapi masif. Mengiringi proses tubulasi terjadi proses differensiasi setempat pada tiap bumbung ketiga lapis benih, yang pada pertumbuhan berikutnya akan menumbuhkan alat (organ) bentuk definitif. Ketika tubulasi ectoderm saraf berlangsung, terjadi pula differensiasi awal pada daerah-daerah bumbung itu, bagian depan tubuh menjadi encephalon (otak) dan bagian belakang menjadi medulla spinalis bagi bumbung neural (saraf). Pada bumbung endoderm terjadi differensiasi awal saluran atas bagian depan, tengah dan belakang. Pada bumbung mesoderm terjadi differensiasi awal untuk menumbuhkan otot rangka, bagian dermis kulit dan jaringan pengikat lain, otot visera, rangka dan alat urogenitalia.
Organogenesis
Organogenesis atau morfogenesis adalah embryo bentuk primitive yang berubah menjadi bentuk yang lebih definitive dan memmiliki bentuk dan rupa yang spesifik dalam suatu spesies. Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu ke 8. Dengan berakhirnya organogenesis maka cirri-ciri eksternal dan system organ utama sudah terbentuk yang selanjutnya embryo disebut fetus (Amy Tenzer,dkk, 2000)
Pada periode pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan differensiasi bagian-bagian tubuh embryo dari bentuk primitive sehingga menjadi bentuk definitif. Pada periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies. Pada periode pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk definitive sehingga menjadi ciri suatu individu. Pada periode ini embryo mengalami penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin, watak (karakter fisik dan psikis) serta wajah yang khusus bagi setiap individu. Organogenesis pada bumbung-bumbung:
  1. Bumbung epidermis
Menumbuhkan:
  1.  
    1. Lapisan epidermis kulit, dengan derivatnya yang bertekstur (susunan kimia) tanduk: sisik, bulu, kuku, tanduk, cula, taji.
    2. Kelenjar-kelenjar kulit: kelenjar minyak bulu, kelenjar peluh, kelenjar ludah, kelenjar lender, kelenjar air mata.
    3. Lensa mata, alat telinga dalam, indra bau dan indra peraba.
    4. Stomodeum menumbuhkan mulut, dengan derivatnya seperti lapisan email gigi, kelenjar ludah dan indra pengecap.
    5. Proctodeum menumbuhkan dubur bersama kelenjarnya yang menghasilkan bau tajam.
    6. Lapisan enamel gigi.
2. Bumbung endoderm
  1.  
    1. Lapisan epitel seluruh saluran pencernaan mulai faring sampai rectum.
    2. Kelenjar-kelenjar pencernaan misalnya hepar, pancreas, serta kelenjar lender yang mengandung enzim dlam esophagus, gaster dan intestium.
    3. Lapisan epitel paru atau insang.
    4. Kloaka yang menjadi muara ketiga saluran: pembuangan (ureter), makanan (rectum), dan kelamin (ductus genitalis).
    5. Lapisan epitel vagina, uretra, vesika urinaria dan kelenjar-kelenjarnya.
3.Bumbung neural (saraf)
  1. Otak dan sumsum tulang belakang.
  2. Saraf tepi otak dan punggung.
  3. Bagian persyarafan indra, seperti mata, hidung dan kulit.
  4. Chromatophore kulit dan alat-alat tubuh yang berpigment.
4.Bumbung mesoderm
  1.  
    1. Otot:lurik, polos dan jantung.
    2. Mesenkim yang dapat berdifferensiasi menjadi berbagai macam sel dan jaringan.
    3. Gonad, saluran serta kelenjar-kelenjarnya.
    4. Ginjal dan ureter.
    5. Lapisan otot dan jaringan pengikat (tunica muscularis, tunica adventitia, tunica musclarismucosa dan serosa) berbagai saluran dalam tubh, seperti pencernaan, kelamin, trakea, bronchi, dan pembuluh darah.
    6. Lapisan rongga tubuh dan selaput-selaput berbagai alat: plera, pericardium, peritoneum dan mesenterium.
    7. Jaringan ikat dalam alat-alat seperti hati, pancreas, kelenjar buntu.
    8. Lapisan dentin, cementum dan periodontum gigi, bersama pulpanya.
Pada minggu ke 5 embryo berukuran 8 mm. Pada saat ini otak berkembang sangat cepat sehingga kepala terlihat sangat besar. Pada minggu ke 6 embrio berukuran 13 mm. Kepala masih lebih besar daripada badan yang sudah mulai lurus, jari-jari mulai dibentuk. Pada minggu ke 7 embryo berukuran 18 mm, jari tangan dan kaki mulai dibentuk, badan mulai memanjang dan lurus, genetalia eksterna belum dapat dibedakan. Setelah tahap organogenesis selesai yaitu pada akhir minggu ke 8 maka embrio akan disebut janin atau fetus dengan ukuran 30 mm.

b. Tahap Perkembangan Fetus/Janin
Tahap perkembangan janin dimulai pada bulan ke 3 sampai ke 10.
Pada 6 bulan terakhir perkembangan manusia digunakan untuk meningkatkan ukuran dan mematangkan organ-organ yang dibentuk pada 3 bulan pertama.
Pada saat janin memasuki bulan ke 3, panjangnya 40 mm. Janin sudah mempunyai sistem organ seperti yang dipunyai oleh orang dewasa. Pada usia ini genitalnya belum dapat dibedakan antara jantan dan betina dan tampak seperti betina serta denyut jantung sudah dapat didengarkan.
Pada bulan ke 4 ukuran janin 56 mm. Kepala masih dominan dibandingkan bagian badan, genitalia eksternal nampak berbeda. Pada minggu ke 16 semua organ vital sudah terbentuk. Pembesaran uterus sudah dapat dirasakan oleh ibu.
Pada bulan ke 5 ukuran janin 112 mm, sedangkan akhir bulan ke 5 ukuran fetus mencapai 160 mm. Muka nampak seperti manusia dan rambut mulai nampak diseluruh tubuh (lanugo). Pada yang jantan testis mulai menempati tempat dimana ia akan turun ke dalam skrotum. Gerakan janin sudah dapat dirasakan oleh ibu. Paru-paru sudah selesai dibentuk tapi belum berfungsi.
Pada bulan ke 6 ukuran tubuh sudah lebih proporsional tapi nampak kurus, organ internal sudah pada posisi normal.
Pada bulan ke 7 janin nampak kurus, keriput dan berwarna merah. Skrotum berkembang dan testis mulai turun untuk masuk ke skrotum, hal ini selesai pada bulan ke 9. system saraf berkembang sehingga cukup untuk mengatur pergerakan fetus, jika dilahirkan 10% dapat bertahan hidup.
Pada bulan ke 8 testis ada dalam skrotum dan tubuh mulai ditumbuhi lemak sehingga terlihat halus dan berisi. Berat badan mulai naik jika dilahirkan 70% dapat bertahan hidup.
Pada bulan ke 9, janin lebih banyak tertutup lemak (vernix caseosa). Kuku mulai nampak pada ujung jari tangan dan kaki.
Pada bulan ke 10, tubuh janin semakin besar maka ruang gerak menjadi berkurang dan lanugo mulai menghilang. Percabangn paru lengkap tapi tidak berfungsi sampai lahir. Induk mensuplai antibodi plasenta mulai regresi dan pembuluh darah palsenta juga mulai regresi.

Pembentukan Janin



Pengertian Janin
Janin atau embryo adalah makhluk yang sedang dalam tingkat tumbuh dalam kandungan. Kandungan itu berada dalam tubuh induk atau diluar tubuh induk (dalam telur). Tumbuh adalah perubahan dari bentuk sederhana dan muda sampai bentuk yang komplek atau dewasa (Wildan yatim, 1990).
Sedangkan dalam Microsoft Encarta 2006 disebutkan bahwa janin merupakan suatu hewan bertulang belakang yang belum lahir pada suatu fase dimana semua ciri struktural orang dewasa sudah dapat dikenal, terutama keturunan manusia yang belum lahir setelah delapan minggu pertumbuhan.

Proses Pembentukan Janin
Spermatogenesis
Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone (Wildan yatim, 1990).
Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :
1.Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer.
Spermatogonia
Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer.
Spermatosit Primer
Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.
2. Tahapan Meiois
Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II.
Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.
3. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita “X”. Apabila salah satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari :
  1.  
    1. Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang mengandung enzim hialuronidase yang mempermudah fertilisasi ovum.
    2. Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan.
    3. Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang dibutuhkan untuk motilitas.
    4. Ekor (cauda), berfungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke dalam vas defern dan ductus ejakulotorius.
b. Oogenesis
Sel-Sel Kelamin Primordial
Sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di dalam ektoderm embrional dari saccus vitellinus, dan mengadakan migrasi ke epitelium germinativum kira-kira pada minggu ke 6 kehidupan intrauteri. Masing-masing sel kelamin primordial (oogonium) dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan memberi nutrien oogonium dan secara bersama-sama membentuk folikel primordial.

Folikel Primordial
Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma cortex ovarium dan folikel ini dihasilkan sebanyak 200.000. Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang selama kehidupan intrauteri dan selama masa kanak-kanak, tetapi tidak satupun mencapai pemasakan. Pada waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana didalamnya terdapat sel kelamin yang disebut oosit primer.

Oosit Primer
Inti (nukleus) oosit primer mengandung 23 pasang kromosom (2n). Satu pasang kromosom merupakan kromosom yang menentukan jenis kelamin, dan disebut kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut autosom. Satu kromosom terdiri dari dua kromatin. Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA.

Pembelahan Meiosis Pertama
Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de Graaf mengalami pemasakan dan selesai sebelum terjadi ovulasi. Inti oosit atau ovum membelah sehingga kromosom terpisah dan terbentuk dua set yang masing-masing mengandung 23 kromosom. Satu set tetap lebih besar dibanding yang lain karena mengandung seluruh sitoplasma, sel ini disebut oosit sekunder. Sel yang lebih kecil disebut badan polar pertama. Kadang-kadang badan polar primer ini dapat membelah diri dan secara normal akan mengalami degenerasi.
Pembelahan meiosis pertama ini menyebabkan adanya kromosom haploid pada oosit sekunder dan badan polar primer, juga terjadi pertukaran kromatid dan bahan genetiknya. Setiap kromosom masih membawa satu kromatid tanpa pertukaran, tetapi satu kromatid yang lain mengalami pertukaran dengan salah satu kromatid pada kromosom yang lain (pasangannya). Dengan demikian kedua sel tersebut mengandung jumlah kromosom yang sama, tetapi dengan bahan genetik yang polanya berbeda.

Oosit Sekunder
Pembelahan meiosis kedua biasanya terjadi hanya apabila kepala spermatozoa menembus zona pellucida oosit (ovum). Oosit sekunder membelah membentuk ovum masak dan satu badan polar lagi, sehingga terbentuk dua atau tiga badan polar dan satu ovum matur, semua mengandung bahan genetik yang berbeda. Ketiga badan polar tersebut secara normal mengalami degenerasi. Ovum yang masak yang telah mengalami fertilisasi mulai mengalami perkembangan embrional.

Fertilisasi
Menurut Sri Sudarwati (1990) fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetic yang berasal dari kedua parentalnya. Sedangkan menurut Wildan Yatim (1990) fertilisasi merupakan masuknya spermatozoa kedalam ovum. Setelah spermatozoa masuk, ovum dapat tumbuh menjadi individu baru.
Spermatozoa yang mengelilingi ovum akan menghasilkan enzim hialuronidase, yaitu enzim yang memecah protoplasma pelindung ovum agar dapat menembus ovum dengan sedikit lebih mudah. Enzim tersebut merusak korona radiata dan memudahkan penembusan zona pellucida hanya untuk satu sperma saja. Badan dan ekor sperma terpisah dari kepala segera setelah masuk ke dalam ovum. Segera setelah kedua sel bersatu, kumparan kutub kedua dalam inti (nukleus) ovum mengalami pembelahan meiosis kedua dan mampu bersatu dengan inti sperma, sehingga terbentuk kromosom diploid (2n). 

Hewan Multiseluler di Lingkungan Anoxic Sedimen Dasar Laut Mediterania


Makhluk ini ditemukan di tempat di mana hanya mikroba dan virus saja yang dianggap mampu bertahan hidup. Hidup eksklusif bebas tanpa oksigen dianggap sebagai gaya hidup yang hanya bagi virus dan mikroorganisme bersel tunggal. Sekelompok peneliti Italia dan Denmark menemukan tiga jenis hewan multisel atau metazoan yang ternyata menghabiskan seluruh hidup mereka di perairan yang sangat kekurangan oksigen di baskom dasar Laut Mediterania.
Temuan ini "akan membuka dunia baru bagi metazoans dalam pikiran kami," kata Lisa Levin, biolog kelautan dari Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California.
Roberto Danovaro dari Polytechnic University of Marche di Ancona, Italia, dan rekan-rekannya menggunakan tiga kapal pesiar di lepas pantai selatan Yunani selama penelitian biota. Spesies (yang belum bernama) bagian dari sebuah divisi berpenghuni di celah kecil dasar laut yang disebut Loricifera. Spesies memiliki panjang kurang dari 1 milimeter hidup pada kedalaman lebih dari 3.000 meter dalam sedimen anoxic di daerah Atalante basin, tempat yang begitu kecil dieksplorasi. Danovaro menyamakan sampling temuan dengan "pergi ke Bulan untuk mengumpulkan batu".
Para peneliti sebelumnya telah menemukan hewan multiseluler yang hidup di lingkungan anoxic, tapi Danovaro mengatakan bahwa tidak jelas apakah binatang tersebut penduduk permanen. Loriciferans baru yang mereka melaporkan minggu ini di BMC Biology, tampaknya "mereproduksi dan menjalani semua kehidupan mereka dalam kondisi anoxic", kata Danovaro.
Para peneliti mengidentifikasi adaptasi yang membantu loriciferans ini bertahan di lingkungan mereka. Jangankan mitokondria (yang mengandalkan oksigen) makhluk organel yang mirip hydrogenosomes ini di mana organisme bersel tunggal menggunaknnya untuk menghasilkan molekul yang menyimpan energi molecules anaerobically.
Angelika Brandt, biolog kelautan dari Germany's Zoological Museum di Hamburg, mengatakan bahwa temuan tim Danovaro "sangat penting". Temuan metazoans hidup tanpa mitokondria dan oksigen, menunjukkan bahwa binatang dapat menempati ceruk yang dulu tampaknya terlalu ekstrem. 

Kehidupan Organisme Multiseluler di Bumi


Berbagai jenis organisme dapat ditemukan di dalam biosfer bumi. Ciri umum organisme-organisme tersebut tumbuhan, hewan, fungi, protista, archaea, dan bakteri ialah bentukan sel berbahan dasar karbon dan air dengan pengaturan kompleks dan informasi genetik yang dapat diwariskan. Organisme-organisme tersebut melakukan metabolisme, mampu tumbuh dan berkembang, tanggap terhadap rangsangan, berkembang biak, dan beradaptasi terhadap lingkungannya melalui seleksi alam.
Kehidupan tersusun sangat teratur dalam hierarki yang terdiri dari tingkatan-tingkatan struktural, setiap tingkat merupakan pengembangan dari tingkatan di bawahnya. Diawali dari tingkat paling rendah, atom-atom disusun menjadi molekul-molekul biologis yang kompleks yang kemudian tersusun menjadi organel, yang lalu menjadi komponen-komponen sel. Terdapat organisme yang terdiri dari sel tunggal, dan terdapat pula organisme lainnya yang merupakan agregat multiseluler dari banyak tipe sel yang terspesialisasi dan saling bekerja sama. Pada organisme multiseluler, sel-sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, susunan spesifik dari jaringan-jaringan yang berbeda membentuk organ, dan organ-organ bergabung membentuk sistem organ. Pada pembahasan tugas kali ini, dikhususkan hanya organisme multiseluler saja baik tumbuhan maupun hewan yang hidup di lautan.
Hewan
Filum porifera telah ada di laut sejak jaman prokambium sekitar 600 juta tahun yang lalu, berdasarkan catatan fosil. Asal usul hewan porifera merupakan turunan dari koloni protozoa jenis 'choanoflagellata'. 'Hewan spons' itulah sebutan untuk filum porifera, disebabkan seluruh permukaan tubuh hewan ini lubang-lubang kecil (pori). Porifera merupakan hewan yang paling sederhana dari organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. Saat ini telah ditemukan 5000 - 10.000 species, dan hanya 150 species yang hidup di air tawar, umumnya hewan ini sebagai bentik di perairan. Sebagian besar hidup di laut dengan warna lebih cerah dibandingkan porifera yang hidup di air tawar. Hidup menempel pada dasar sedimen laut (sessil) dan sangat tergantung pada aliran air untuk mengambil makanan dan oksigen serta membuang zat sisa. Porifera merupakan hewan hermaprodit (menghasilkan sperma dan ovum), walaupun demikian tidak dapat mebuahi sendiri tapi melalui proses pertukaran sperma. Reproduksi porifera secara aseksual dengan menggunakan kuncup luar, gemulae merupakan tunas dalam, dan regenerasi. (Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7898610)

Mirip Tumbuhan
Protista mirip tumbuhan (algae) namun tidak termasuk di dalam kingdom plantae ini mempunyai bermacam-macam bentuk tubuh:
  1. Bentuk uniseluler: bentuk uniseluler yang berflagela dan yang tidak berflagela.
  2. Bentuk multiseluler:
    1. Koloni : koloni yang motil dan koloni yang kokoid
    2. Agregasi : bentuk palmeloid, dendroid, dan rizopoidal.
    3. Bentuk filamentik: filamen sederhana, filamen bercabang, filamen heterotrikh, filamen pseudoparenkhimatik yang uniaksial dan multiaksial.
    4. Bentuk sifon/pipa.
    5. Pseudoparenkhimatik
Algae dapat hidup di perairan tawar juga ada yang hidup di lautan. Khusus alga multiseluler yang hidup dilautan diantaranya adalah :
a.      Dari filum algae keemasan (Chrysophyta) yang terdiri atas algae uniseluler dan multiseluler. Untuk yang multiseluler dari Kelas algae Hijau-Kuning (Xanthophyceae). Algae ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru.
Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora. Zoospora terlepas dari induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.
b.     Dari filum algae coklat (Phaeophyta), bentuknya seperti tumbuhan tinggi, sebagian besar hidup di laut dengan melekat di bebatuan, Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen,lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung klorofil a dan klorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora atau aplanospora. Reproduksi seksual dilakukan secara isogami, anisogami atauoogami. Contohnya: Sargassum muticum (gulma laut), Fucus serratus, Macrocystis pyrifera (alga raksasa) dan Turbinaria decurrens.
c.      Dari filum algae kemerahan (Rhodophyta) habitat sebagian besar dilaut (rumput laut) dan sebagian juga di air tawar. Hampir semuanya multiseluler, hanya 2 marga saja yang uniseluler.Talus yang multiseluler berbentuk filamen silinder ataupun helaian. Pada dasarnya talus yang multiseluler, terutama yang tinggi tingkatannya terdiri dari filamen-filamen yang bercabang-cabang dan letaknya sedemikian rupa hingga membentuk talus yang pseudoparenkhimatik. Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi. Rhodopyceae membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta,netral, monospora. contohnya Carollina, Palmaria, Batrachospermum moniliforme, Gelidium (agar-agar), Gracilaria, Euchema, dan Scinaia furcellata. (Sumber: http://www.scribd.com/doc/56142079/Alga, http://www.ruangilmu.com/index.php?action=artikel&cat=9&id=257&artlang=id)

Makhluk Hidup Setengah Hewan Setengah Tumbuhan
Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan. Para ilmuwan memperkirakan siput cerdik ini mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen curian itu mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi.
“hewan ini bisa membuat molekul berisi energi tanpa makan apa-apa,” kata sydney pierce, pakar biologi dari universitas south florida di tampa. Pierce telah mempelajari mahluk unik ini, yang telah resmi dinamakan elysia chlorotica, selama 20 tahun.
Ia mengajukan temuan terbarunya pada tanggal 7 januari 2010, pada pertemuan tahunan komunitas integratif dan perbandingan biologi di seattle. Temuan ini dilaporkan pertama kali oleh jurnal science. “ini pertamakalinya hewan multiselular bisa menghasilkan klorofil,” tutur pierce.
Siput laut ini tinggal di rawa-rawa air asin di new england, kanada. Selain mencuri gen untuk menghasilkan pigmen hijau klorofil, hewan ini juga mencuri bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas, yang dipakai untuk melakukan fotosintesis. Kloroplas menggunakan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, seperti tanaman, sehingga hewan ini tak perlu makan untuk mendapatkan energi.
 “Kami mengumpulkan sejumlah hewan ini dan menyimpannya di akuarium selama berbulan-bulan,” kata pierce, “asalkan diberi cahaya selama 12 jam sehari, mereka bisa bertahan (tanpa makan).”
Para peneliti memakai pelacak radioaktif untuk memastikan bahwa siput-siput ini benar-benar menghasilkan klorofil, dan bukan mencurinya dari pigmen yang sudah pada alga. Nyatanya, siput-siput ini mengintegrasikan materi genetika dengan begitu sempurna sehingga bisa diturunkan pada generasi selanjutnya.
Anak-anak dari siput yang sudah mencuri gen juga bisa menghasilkan klorofil sendiri, walaupun mereka tak bisa berfotosintesis sebelum mereka makan cukup alga hingga bisa mencuri cukup kloroplas. Sejauh ini kloroplasnya belum bisa mereka produksi sendiri. Keberhasilan siput-siput ini mengagumkan, dan para ilmuwan juga masih belum pasti bagaimana caranya hewan ini bisa memilih gen yang mereka butuhkan.
“Mungkin saja dna dari satu spesies bisa masuk ke spesies yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh siput jenis ini. Tapi mekanismenya masih belum diketahui,” ungkap pierce. (Sumber: http://databerita.com/makhluk-hidup-setengah-hewan-setengah-tumbuhan/)

Kerang Air Tawar (Corbicula Sp.)



Para Corbiculidae adalah keluarga luas kerang berukuran sedang, sering diwarnai atau diwarnai dengan ungu pada interior. Nama "corbicula" (keranjang kecil, dari corbus, keranjang) mengacu pada kerang karakteristik mereka konsentris berusuk dan bentuk umum. Mereka ovoviviparous, merenung telur dibuahi di kantong internal merenung. Brood ukuran besar, tetapi remaja dilepaskan ke dalam lingkungan yang kecil, kontras dengan sphaeriids terkait. Individu dari Corbicula fluminea (Muller) yang tidak biasa dalam memproduksi telur hanya pada saat jatuh tempo awal, diikuti kemudian oleh sperma. Mereka kemudian menjadi hermafrodit simultan dan tetap demikian sepanjang hidup mereka (McMahon, 1991). Ada dua belas genera terdaftar oleh Banarescu (1990), termasuk beberapa karakteristik perairan payau, dan Posostrea genus tambahan baru-baru dijelaskan oleh Bogan dan Bouchet (1998).
Corbicula, tengah dan selatan Afrika, Tengah dan Asia Selatan.
Geloina; selatan Asia dan Malaysia.
Cyrenodonax, selatan Cina, Viet Nam.
Cyrenobatissa; Vietnam utara.
Batissa, Malaysia dan Indonesia.
Posostrea; Danau Poso, Indonesia
Corbiculina; Australia timur.
Solielletia; Ethiopia.
Polymesoda; Teluk pantai, dan pantai Atlantik dari utara Amerika Selatan.
Neocorbicula; Teluk pantai, dan pantai Atlantik dari utara Amerika Selatan.
Pseudocyrena; Karibia Amerika Tengah sisi.
Egetaria; pantai Atlantik Amerika Selatan.
Villorita; bagian timur Amerika Selatan.

Asia (invasif di Amerika Utara dan di tempat lain)
Dua varietas Corbicula, yang "kerang Asiatik" kini hadir di Amerika Utara bagian timur, sering disebut secara kolektif sebagai C. fluminea (Müller, 1774), C. fluminalis (Muller, 1774), C. manilensis (Filipi, 1844), atau C.Leana (Perdana, 1864).
Di bagian timur Amerika Utara, bentuk "yang" lebih luas, terjadi di semua habitat dari sungai kecil untuk waduk besar, sedangkan bentuk "b" tampaknya terbatas pada waduk besar tertentu saat ini, di mana populasi dapat berisi kedua bentuk dalam proporsi yang berbeda. Perbedaan morfologis mereka konsisten. Spesimen di sebelah kanan, "b", lebih meningkat, dengan umbones lebih tinggi, dan relatif lebih tebal shell, dan gigi lateral tebal dan ditetapkan pada sekitar 90 ° satu sama lain, kadang kurang. Varietas "sebuah" selalu memiliki gigi lateral yang diatur pada sudut tumpul. Varietas yang mungkin sesuai dengan "ungu" dan "putih" bentuk Hillis dan Patton, (1982), meskipun ada perbedaan jauh lebih sedikit di shell warna dalam spesimen dari Chickamauga Waduk di Tennessee. Sayangnya Hillis dan Patton tidak menggambarkan materi mereka. Mereka merekomendasikan melawan menerapkan berbagai nama khusus untuk baik sampai sistematika untuk spesies ini bekerja dalam rentang rumah mereka.
Zhadin, (1952) mencakup gambar dari dua spesies asli ke Uni Soviet, eksterior saja. Satu, shell yang lebih luas, lebih besar, C.fluminea, var. suifunensis, kira-kira menyerupai berbagai "sebuah" yang ditunjukkan di atas. Ini adalah asli wilayah pesisir timur dan Asia tenggara. Nya C. fluminalis, asli Asia Tengah, adalah sebuah shell yang lebih sempit segitiga yang resembes berbagai "b".
McMahon, (1991) angka yang meluas "ringan" bentuk, sementara "gelap" bentuk terbatas pada musim semi karbonat-makan kaya sungai di Amerika Serikat Barat Daya. Dia memberikan bentuk cahaya untuk C. fluminea (mirip dengan berbagai "b"), tetapi tidak dalam perjanjian dengan Zhadin, dan daun bentuk gelap tak dikenal (Corbicula sp). Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa ada lebih dari dua spesies Corbicula di Amerika Utara. Hal ini juga muncul mungkin dari shell deskripsi yang diberikan oleh McMahon, bahwa "gelap" nya formulir bisa menjadi varian ecophenotypic varietas "a".
Corbicula juga hadir di Sungai Columbia barat Amerika Utara. Spesimen yang tersedia bagi saya menunjukkan garis menengah, dengan gigi lateral yang tipis seperti berbagai "a".
Periostracum warna tidak terlalu diagnostik, seperti di sebagian besar lokasi yang muda kecil berwarna kuning kehijauan, dan mereka perlahan-lahan gelap sebagai fungsi dari usia dan kimia air.
Saya akan menyarankan bahwa dengan munculnya perjalanan udara luas, masyarakat Asia telah membawa kerang ini dari tanah air mereka ke hampir setiap bagian dari dunia yang mereka telah menetap.

Tiga spesies terdaftar sebagai terjadi di Cina oleh Liu Yueyin (1979) Fauna Ekonomi Cina (moluska air tawar);gambar disertakan di bawah ini untuk referensi

Asia Tenggara dan Hindia
Brandt (1974) angka 26 spesies Corbicula untuk wilayah Thailand, yang paling bervariasi dari satu sama lain dalam cara yang relatif kecil. Ini termasuk spesies C. fluminea, C. baudoni, dan C. largillierti disebutkan di atas, yang C. largillierti dan C. baudoni terdaftar sebagai sinonim. Dia juga tokoh satu Batissa dan tiga spesiesPolymesoda untuk Thailand, serupa dengan yang ditampilkan di bawah ini.
Cyrenobatissa subsulcata (atau Cyrenobatissa maxima), nama Cina Description: http://mkohl1.net/Corbiculidae_files/CTaxian.gif "Da Xian".
Bogan dan Bouchet (1998) menjelaskan species Posostrea corbiculid anomioides endemik Danau Poso di pulau Sulawesi, Indonesia, dimana ia hidup melekat pada bagian bawah blok batu kapur atau daerah lain yang terlindung dari sinar matahari langsung. Luar biasa untuk penyemenan bivalvia, spesies ini menempel dengan baik katup dengan frekuensi yang sama.

Afrika
Pilsbry dan Becquaert (1927) mengutip seorang penulis sebelumnya (Connoly) bahwa "itu akan membutuhkan kenalan intim dengan jenis dan set panjang setiap varietas untuk mengungkap kusut yang luar biasa di mana spesies Afrika Corbicula telah tenun"
Mereka termasuk hanya 4 spesies dalam deskripsi mereka, ditambah satu subspesies tambahan, termasuk C. fluminalis. Selain itu, mereka daftar dua jenis Soleilletia dari Bourguignat.
Kerajaan: Animalia
Filum: Mollusca
Kelas: Bivalvia
Urutan: Veneroida
Keluarga: Corbiculidae
Genus: Corbicula
Spesies: Corbicula fluminea
Rentang Geografis
Kerang Asiatik ditemukan di seluruh Asia, Amerika Utara dan Selatan, Eropa dan sebagian Afrika. Kerang ini terjadi terutama di sungai selatan lintang 40 derajat di belahan bumi utara.
Biogeografi Daerah:
nearctic Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); palearctic Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); oriental Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); neotropical Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif).
Habitat
Kerang Asiatik lebih menyukai danau atau sungai yang telah aa substrat berpasir atau kerikil. Namun, mereka juga terletak di bawah batu-batu besar dan dalam silts lembut danau laut. Kerang yang tumbuh subur baik di perairan yang mengalir cepat karena arus pasokan sumber konstan dari makanan partikulat yang mengkonsumsi kerang.
Perairan Bioma: danau dan kolam, sungai dan sungai.
Reproduksi
Kerang Asiatik adalah hermafrodit, dengan genopores tunggal pada setiap sisi tubuh. Reproduksi dan larva terjadi dua kali setahun rilis di musim semi dan di akhir musim panas. Kerang ini diyakini berlatih self-fertilisasi, memungkinkan regenerasi yang cepat ketika populasi koloni koloni rendah.
Perilaku
Permukiman khas dari kerang Asiatic terjadi dengan kepadatan penduduk berkisar dari 100 ke 200 kerang per meter persegi. Namun, populasi dapat tumbuh sebagai besar sebagai kima 3000 per meter persegi. Tampaknya tidak ada kompetisi untuk makanan antara individu-individu dalam spesies, tetapi dalam populasi kepadatan tinggi, persaingan ruang sering penting.
Makanan Kebiasaan
Kerang kerang Asiatik adalah filter-makan. Ini filter organisme mikroskopis, seperti plankton, dari air.
Pentingnya Ekonomi untuk Manusia: Negatif
Kerang menciptakan masalah bagi pembangkit listrik dengan menghalangi sistem ventalation dan katup air intake. Biaya gabungan dari pemadaman, penurunan efisiensi, modal investasi dalam pengendalian peralatan, tenaga kerja dan kimia, melebihi 1 miliar per tahun.
Pentingnya Ekonomi untuk Manusia: Positif
Asiatik kerang merupakan sumber utama makanan dan dipanen oleh manusia di seluruh dunia. Clam, ketika dikeluarkan dari cangkangnya, juga membuat fishbait baik.
Status Konservasi
Secara historis, populasi liar dari Asia kerang dieksploitasi dan dipanen, sejauh itu, secara lokal, kerang sekali dihadapi membahayakan atau kepunahan. Hari ini, kerang yang tumbuh subur di seluruh dunia.


Purposive sampling
Istilah purposive sering diterjemahkan bertujuan, karena purpose artinya maksud atau tujuan; jadi purposive samplingdiartikan sebagai pengambilan sampel secara bertujuan. Ini benar, tapi tidak betul. Beberapa definisi sering menyebutnya sebagai pengambilan sampel “with purpose in mind” (dengan tujuan atau maksud tertentu di hati). Tetapi tujuan tersebut tidak jelas (tujuan apa?). Itu makanya disebut benar tapi tidak betul, karena tak jelas.
Kalau membuka kamus (buka kamus yang “besar” semisal Oxford Advances Learner’s Dictionary), akan tertemukan bahwa memang salah satu arti purpose adalah tujuan. Tapi tentu dalam hal ini bukan itu yang dimaksud, karena tidak ada pengambilan sampel yang tidak punya tujuan, apalagi menelitinya. Jika dibaca lebih cermat kamus tersebut, maka akan ditemukan arti lain dari purpose, antara lain kesengajaan (“intention”), tidak sekedar secara kebetulan (“accidental“); juga berarti alasan (“reason“) tertentu; dan juga tuntutan keadaan tertentu (the requirements of a particular situation) atau, jelasnya, menurut persyaratan tertentu.
Jadi, dapatlah dikatakan bahwa purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya).
Misalnya yang diperlukan sebagai sampel adalah “perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki (bukan bebek dan sejenisnya)”–karena yang sedang dicari (jadi, populasinya) adalah perempuan-perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki. Hati-hati, populasinya bukan semua pengguna sepeda motor, sepeda motor jenis atau tipe apapun. Hati-hati pula, bukan “pengguna motor: kasus perempuan pengguna motor laki-laki.” Juga hati-hati: bukan pengguna sepeda motor laki-laki: kasus perempuan. Populasinya semua perempuan pengguna sepeda motor laki-laki (artinya, atau definisi operasionlanya: perempuan yangselalu atau sering kali jika bepergian menggunakan sepeda motor jenis itu, apapun yang menjadi latar belakangnya).

Dalam kasus tertentu, Penulis lebih suka menyebut purposive sampling dalam istilah bahasa Jawa sebagai teknik pengambilan sampel secara “njujug“, “menuju langsung ke “tempat” (area, wilayah, lokasi) tertentu yang banyak anggota populasi dimaksud berada.
Jadi, KE…….JAR terus di mana pun sampel berada!
Contoh:
Jika ingin meneliti anak-anak jalanan, datangilah (untuk mengambil sampel) perempatan-perempatan jalan raya. Kenapa? Karena di situ anak-anak jalanan sering melakukan aktivitas ngamen dan meminta-minta. Jadi, jelas tidak perlu dengan teknik area sampling (area geografis dan atau administratif). Maksudnya, memilih-pilih (menyampel) area, lalu dari area-area tersampel itu dicari anak-anak jalanannya. Muspro, mubazir, gitu kira-kira. Sebab, bisa jadi dari area tertentu malah tak tertemukan anak jalanan itu.
Jika ingin meneliti “ayam-ayam kampus” (maaf lho, karena ini sudah “populer” alias diketahui “populi” atau orang banyak) contoh lainnya, datangilah tempat-tempat yang biasa dipakai “praktek lapangan” mereka, bukan di kampus [Dimarahi Rektor, nanti, hehe. Tentu juga, jangan tanya saya di mana mereka ngetem, tentu saja, hehe! Mana tahu?! Eh, belum tahu, belum berkepentingan, sih. Hus, untuk penelitian, maksudnya, bukan kepentingan lain!Heheh . . . Tanya "informan"-nya saja, lah! Informannya siapa, gak tahu juga aku!]. Nah, jadi, lalu, ambillah sampel mereka di atau dari tempat mangkalnya itu.
Dengan cara seperti itu, maka:
(1) Tuntutan mendapatkan sampel yang sesuai atau pas (yang termasuk anggota “anak jalanan” atau “ayam kampus”) pasti tecapai.
(2) “Secara sengaja” (baca: terencana; purposive) mencari anggota populasi “njujug langsung ke tempat tertentu” punya alasan logis, karena jelas lebih efektif dan efisien, daripada mencari-cari ke mana-mana yang belum tentu menemukan apa yang dicari.
Ambil contoh Anda akan meneliti kasus tawuran pelajar. Sudah diketahui umum bahwa yang suka tawuran itu hanya dari beberapa sekolah tertentu saja (antar sekolah tertentu). Jadi, secara sengaja (purposive) Anda lakukan perburuan (hunting) sampel murid yang suka tawuran ke sekolah-sekolah tertentu itu saja, tak perlu semua sekolah dimasuki, atau disampel. Di sekolah itu saja pun mungkin Anda harus cukup lama berakrab-akrab dulu dengan murid-murid sebelum mendapatkan sampel para petawur itu. Jangan begitu datang langsung “to the point” (togmol, kata orang Sunda) mencari dan mewawancarai petawur. Bisa terjebak, salah “tangkap,” dan mendapatkan informasi yang bias. [Hehehe . . ., maaf, jangan suka main "tangkap dulu urusan belakang" kayak oknum polisi-polisi yang tidak profesional--ditangkap, dianggap teroris, lalu dilepas, tak terbukti! Bikin trauma dan stres orang saja!].
Ada pula yang memberi makna purposive sampling itu sebagai pengambilan sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan. Jadi ini akan sama dengan opportunistic (incidental, acidental) sampling. Misal dalam polling (jajag pendapat) seseorang peneliti (observer) mencegat orang-orang yang lewat untuk ditanyai. Barangsiapa sesuai ketentuan (kriteria sampel) maka langsung diambil sebagai sampel, yang tidak memenuhi kriteria dibiarkan lewat. Sekali lagi, cara seperti itu lebih lazim disebut dengan opportunistic (accidental, incidental) sampling (mengambil sampel siapa saja yang kebetulan pas untuk menjadi sampel).
Dalam penelitian kualitatif sampel lazim diambil secara purposive. Ini juga maknanya sama, yakni “njujug,” hanya saja yang dijadikan “jujugan” (tujuan) bukan tempat, melainkan orang (subjek/reponden penelitian). Jelasnya, yang “dituju” adalah orang-orang tertentu yang (dengan alasan atau latar belakang logis) memenuhi persyaratan (tuntutan persyaratan) sebagai “responden” (yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian). Ini hampir mirip dengan informan (narasumber) penelitian. Jangan lupa, bedanya, informan tidak memberikan informasi pribadi, melainkan informasi kelembagaan. Sampel penelitian kualitatif yang purposive tadi, tetap memiliki ciri individual, pribadi. Artinya, keindividuannya itu yang diteliti. Ia tidak mewakili kelembagaan (apapun lembaga, organisasi dsb).
Purposive sampling suka juga disebut judgmental sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan “penilaian” (judgment) peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sampel. Oleh karenanya agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel dimaksud (tentu juga populasinya) agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).
Berapa banyak sampel purposif diambil? Rumusnya sederhana: sebanyak yang dianggap cukup memadai untuk memperoleh data penelitian yang mencerminkan (representatif) keadaan populasi. Maksudnya, data dari sampel purposif tersebut dianggap sudah bisa menggambarkan (menjawab) apa yang menjadi tujuan dan permasalahan penelitian. Tentu tidak bagus kalu cuma satu dua orang. Sebanyak mungkin jauh lebih baik. Angka pasti? Tidak ada. Perhatikan perkiraan “anggota populasi” yang ada di “area” (contoh: tempat mangkal anak jalanan dan ayam kampus tadi) ada berapa banyak, lalu ambillah sebanyak mungkin).
Hati-hati dengan kasus “ayam kampus.” Bisa jadi ini termasuk jenis populasi tidak jelas atau tidak pasti (tidak jelas keberadaannya dan tidak pasti jumlahnya). Dalam kasus ini gunakan teknik sampling untuk populasi tak jelas/tak pasti (uraian berikut).

Follow Twitterku

Tukar Link Blog Yuk