Pages

Showing posts with label Biodiversitas. Show all posts
Showing posts with label Biodiversitas. Show all posts

Monday, May 20, 2013

Hewan Multiseluler di Lingkungan Anoxic Sedimen Dasar Laut Mediterania


Makhluk ini ditemukan di tempat di mana hanya mikroba dan virus saja yang dianggap mampu bertahan hidup. Hidup eksklusif bebas tanpa oksigen dianggap sebagai gaya hidup yang hanya bagi virus dan mikroorganisme bersel tunggal. Sekelompok peneliti Italia dan Denmark menemukan tiga jenis hewan multisel atau metazoan yang ternyata menghabiskan seluruh hidup mereka di perairan yang sangat kekurangan oksigen di baskom dasar Laut Mediterania.
Temuan ini "akan membuka dunia baru bagi metazoans dalam pikiran kami," kata Lisa Levin, biolog kelautan dari Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California.
Roberto Danovaro dari Polytechnic University of Marche di Ancona, Italia, dan rekan-rekannya menggunakan tiga kapal pesiar di lepas pantai selatan Yunani selama penelitian biota. Spesies (yang belum bernama) bagian dari sebuah divisi berpenghuni di celah kecil dasar laut yang disebut Loricifera. Spesies memiliki panjang kurang dari 1 milimeter hidup pada kedalaman lebih dari 3.000 meter dalam sedimen anoxic di daerah Atalante basin, tempat yang begitu kecil dieksplorasi. Danovaro menyamakan sampling temuan dengan "pergi ke Bulan untuk mengumpulkan batu".
Para peneliti sebelumnya telah menemukan hewan multiseluler yang hidup di lingkungan anoxic, tapi Danovaro mengatakan bahwa tidak jelas apakah binatang tersebut penduduk permanen. Loriciferans baru yang mereka melaporkan minggu ini di BMC Biology, tampaknya "mereproduksi dan menjalani semua kehidupan mereka dalam kondisi anoxic", kata Danovaro.
Para peneliti mengidentifikasi adaptasi yang membantu loriciferans ini bertahan di lingkungan mereka. Jangankan mitokondria (yang mengandalkan oksigen) makhluk organel yang mirip hydrogenosomes ini di mana organisme bersel tunggal menggunaknnya untuk menghasilkan molekul yang menyimpan energi molecules anaerobically.
Angelika Brandt, biolog kelautan dari Germany's Zoological Museum di Hamburg, mengatakan bahwa temuan tim Danovaro "sangat penting". Temuan metazoans hidup tanpa mitokondria dan oksigen, menunjukkan bahwa binatang dapat menempati ceruk yang dulu tampaknya terlalu ekstrem. 

Kehidupan Organisme Multiseluler di Bumi


Berbagai jenis organisme dapat ditemukan di dalam biosfer bumi. Ciri umum organisme-organisme tersebut tumbuhan, hewan, fungi, protista, archaea, dan bakteri ialah bentukan sel berbahan dasar karbon dan air dengan pengaturan kompleks dan informasi genetik yang dapat diwariskan. Organisme-organisme tersebut melakukan metabolisme, mampu tumbuh dan berkembang, tanggap terhadap rangsangan, berkembang biak, dan beradaptasi terhadap lingkungannya melalui seleksi alam.
Kehidupan tersusun sangat teratur dalam hierarki yang terdiri dari tingkatan-tingkatan struktural, setiap tingkat merupakan pengembangan dari tingkatan di bawahnya. Diawali dari tingkat paling rendah, atom-atom disusun menjadi molekul-molekul biologis yang kompleks yang kemudian tersusun menjadi organel, yang lalu menjadi komponen-komponen sel. Terdapat organisme yang terdiri dari sel tunggal, dan terdapat pula organisme lainnya yang merupakan agregat multiseluler dari banyak tipe sel yang terspesialisasi dan saling bekerja sama. Pada organisme multiseluler, sel-sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, susunan spesifik dari jaringan-jaringan yang berbeda membentuk organ, dan organ-organ bergabung membentuk sistem organ. Pada pembahasan tugas kali ini, dikhususkan hanya organisme multiseluler saja baik tumbuhan maupun hewan yang hidup di lautan.
Hewan
Filum porifera telah ada di laut sejak jaman prokambium sekitar 600 juta tahun yang lalu, berdasarkan catatan fosil. Asal usul hewan porifera merupakan turunan dari koloni protozoa jenis 'choanoflagellata'. 'Hewan spons' itulah sebutan untuk filum porifera, disebabkan seluruh permukaan tubuh hewan ini lubang-lubang kecil (pori). Porifera merupakan hewan yang paling sederhana dari organisme multiseluler dan sebagian besar hidup di laut. Saat ini telah ditemukan 5000 - 10.000 species, dan hanya 150 species yang hidup di air tawar, umumnya hewan ini sebagai bentik di perairan. Sebagian besar hidup di laut dengan warna lebih cerah dibandingkan porifera yang hidup di air tawar. Hidup menempel pada dasar sedimen laut (sessil) dan sangat tergantung pada aliran air untuk mengambil makanan dan oksigen serta membuang zat sisa. Porifera merupakan hewan hermaprodit (menghasilkan sperma dan ovum), walaupun demikian tidak dapat mebuahi sendiri tapi melalui proses pertukaran sperma. Reproduksi porifera secara aseksual dengan menggunakan kuncup luar, gemulae merupakan tunas dalam, dan regenerasi. (Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7898610)

Mirip Tumbuhan
Protista mirip tumbuhan (algae) namun tidak termasuk di dalam kingdom plantae ini mempunyai bermacam-macam bentuk tubuh:
  1. Bentuk uniseluler: bentuk uniseluler yang berflagela dan yang tidak berflagela.
  2. Bentuk multiseluler:
    1. Koloni : koloni yang motil dan koloni yang kokoid
    2. Agregasi : bentuk palmeloid, dendroid, dan rizopoidal.
    3. Bentuk filamentik: filamen sederhana, filamen bercabang, filamen heterotrikh, filamen pseudoparenkhimatik yang uniaksial dan multiaksial.
    4. Bentuk sifon/pipa.
    5. Pseudoparenkhimatik
Algae dapat hidup di perairan tawar juga ada yang hidup di lautan. Khusus alga multiseluler yang hidup dilautan diantaranya adalah :
a.      Dari filum algae keemasan (Chrysophyta) yang terdiri atas algae uniseluler dan multiseluler. Untuk yang multiseluler dari Kelas algae Hijau-Kuning (Xanthophyceae). Algae ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru.
Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora. Zoospora terlepas dari induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.
b.     Dari filum algae coklat (Phaeophyta), bentuknya seperti tumbuhan tinggi, sebagian besar hidup di laut dengan melekat di bebatuan, Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen,lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung klorofil a dan klorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora atau aplanospora. Reproduksi seksual dilakukan secara isogami, anisogami atauoogami. Contohnya: Sargassum muticum (gulma laut), Fucus serratus, Macrocystis pyrifera (alga raksasa) dan Turbinaria decurrens.
c.      Dari filum algae kemerahan (Rhodophyta) habitat sebagian besar dilaut (rumput laut) dan sebagian juga di air tawar. Hampir semuanya multiseluler, hanya 2 marga saja yang uniseluler.Talus yang multiseluler berbentuk filamen silinder ataupun helaian. Pada dasarnya talus yang multiseluler, terutama yang tinggi tingkatannya terdiri dari filamen-filamen yang bercabang-cabang dan letaknya sedemikian rupa hingga membentuk talus yang pseudoparenkhimatik. Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi. Rhodopyceae membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta,netral, monospora. contohnya Carollina, Palmaria, Batrachospermum moniliforme, Gelidium (agar-agar), Gracilaria, Euchema, dan Scinaia furcellata. (Sumber: http://www.scribd.com/doc/56142079/Alga, http://www.ruangilmu.com/index.php?action=artikel&cat=9&id=257&artlang=id)

Makhluk Hidup Setengah Hewan Setengah Tumbuhan
Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan. Para ilmuwan memperkirakan siput cerdik ini mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen curian itu mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi.
“hewan ini bisa membuat molekul berisi energi tanpa makan apa-apa,” kata sydney pierce, pakar biologi dari universitas south florida di tampa. Pierce telah mempelajari mahluk unik ini, yang telah resmi dinamakan elysia chlorotica, selama 20 tahun.
Ia mengajukan temuan terbarunya pada tanggal 7 januari 2010, pada pertemuan tahunan komunitas integratif dan perbandingan biologi di seattle. Temuan ini dilaporkan pertama kali oleh jurnal science. “ini pertamakalinya hewan multiselular bisa menghasilkan klorofil,” tutur pierce.
Siput laut ini tinggal di rawa-rawa air asin di new england, kanada. Selain mencuri gen untuk menghasilkan pigmen hijau klorofil, hewan ini juga mencuri bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas, yang dipakai untuk melakukan fotosintesis. Kloroplas menggunakan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, seperti tanaman, sehingga hewan ini tak perlu makan untuk mendapatkan energi.
 “Kami mengumpulkan sejumlah hewan ini dan menyimpannya di akuarium selama berbulan-bulan,” kata pierce, “asalkan diberi cahaya selama 12 jam sehari, mereka bisa bertahan (tanpa makan).”
Para peneliti memakai pelacak radioaktif untuk memastikan bahwa siput-siput ini benar-benar menghasilkan klorofil, dan bukan mencurinya dari pigmen yang sudah pada alga. Nyatanya, siput-siput ini mengintegrasikan materi genetika dengan begitu sempurna sehingga bisa diturunkan pada generasi selanjutnya.
Anak-anak dari siput yang sudah mencuri gen juga bisa menghasilkan klorofil sendiri, walaupun mereka tak bisa berfotosintesis sebelum mereka makan cukup alga hingga bisa mencuri cukup kloroplas. Sejauh ini kloroplasnya belum bisa mereka produksi sendiri. Keberhasilan siput-siput ini mengagumkan, dan para ilmuwan juga masih belum pasti bagaimana caranya hewan ini bisa memilih gen yang mereka butuhkan.
“Mungkin saja dna dari satu spesies bisa masuk ke spesies yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh siput jenis ini. Tapi mekanismenya masih belum diketahui,” ungkap pierce. (Sumber: http://databerita.com/makhluk-hidup-setengah-hewan-setengah-tumbuhan/)

Kerang Air Tawar (Corbicula Sp.)



Para Corbiculidae adalah keluarga luas kerang berukuran sedang, sering diwarnai atau diwarnai dengan ungu pada interior. Nama "corbicula" (keranjang kecil, dari corbus, keranjang) mengacu pada kerang karakteristik mereka konsentris berusuk dan bentuk umum. Mereka ovoviviparous, merenung telur dibuahi di kantong internal merenung. Brood ukuran besar, tetapi remaja dilepaskan ke dalam lingkungan yang kecil, kontras dengan sphaeriids terkait. Individu dari Corbicula fluminea (Muller) yang tidak biasa dalam memproduksi telur hanya pada saat jatuh tempo awal, diikuti kemudian oleh sperma. Mereka kemudian menjadi hermafrodit simultan dan tetap demikian sepanjang hidup mereka (McMahon, 1991). Ada dua belas genera terdaftar oleh Banarescu (1990), termasuk beberapa karakteristik perairan payau, dan Posostrea genus tambahan baru-baru dijelaskan oleh Bogan dan Bouchet (1998).
Corbicula, tengah dan selatan Afrika, Tengah dan Asia Selatan.
Geloina; selatan Asia dan Malaysia.
Cyrenodonax, selatan Cina, Viet Nam.
Cyrenobatissa; Vietnam utara.
Batissa, Malaysia dan Indonesia.
Posostrea; Danau Poso, Indonesia
Corbiculina; Australia timur.
Solielletia; Ethiopia.
Polymesoda; Teluk pantai, dan pantai Atlantik dari utara Amerika Selatan.
Neocorbicula; Teluk pantai, dan pantai Atlantik dari utara Amerika Selatan.
Pseudocyrena; Karibia Amerika Tengah sisi.
Egetaria; pantai Atlantik Amerika Selatan.
Villorita; bagian timur Amerika Selatan.

Asia (invasif di Amerika Utara dan di tempat lain)
Dua varietas Corbicula, yang "kerang Asiatik" kini hadir di Amerika Utara bagian timur, sering disebut secara kolektif sebagai C. fluminea (Müller, 1774), C. fluminalis (Muller, 1774), C. manilensis (Filipi, 1844), atau C.Leana (Perdana, 1864).
Di bagian timur Amerika Utara, bentuk "yang" lebih luas, terjadi di semua habitat dari sungai kecil untuk waduk besar, sedangkan bentuk "b" tampaknya terbatas pada waduk besar tertentu saat ini, di mana populasi dapat berisi kedua bentuk dalam proporsi yang berbeda. Perbedaan morfologis mereka konsisten. Spesimen di sebelah kanan, "b", lebih meningkat, dengan umbones lebih tinggi, dan relatif lebih tebal shell, dan gigi lateral tebal dan ditetapkan pada sekitar 90 ° satu sama lain, kadang kurang. Varietas "sebuah" selalu memiliki gigi lateral yang diatur pada sudut tumpul. Varietas yang mungkin sesuai dengan "ungu" dan "putih" bentuk Hillis dan Patton, (1982), meskipun ada perbedaan jauh lebih sedikit di shell warna dalam spesimen dari Chickamauga Waduk di Tennessee. Sayangnya Hillis dan Patton tidak menggambarkan materi mereka. Mereka merekomendasikan melawan menerapkan berbagai nama khusus untuk baik sampai sistematika untuk spesies ini bekerja dalam rentang rumah mereka.
Zhadin, (1952) mencakup gambar dari dua spesies asli ke Uni Soviet, eksterior saja. Satu, shell yang lebih luas, lebih besar, C.fluminea, var. suifunensis, kira-kira menyerupai berbagai "sebuah" yang ditunjukkan di atas. Ini adalah asli wilayah pesisir timur dan Asia tenggara. Nya C. fluminalis, asli Asia Tengah, adalah sebuah shell yang lebih sempit segitiga yang resembes berbagai "b".
McMahon, (1991) angka yang meluas "ringan" bentuk, sementara "gelap" bentuk terbatas pada musim semi karbonat-makan kaya sungai di Amerika Serikat Barat Daya. Dia memberikan bentuk cahaya untuk C. fluminea (mirip dengan berbagai "b"), tetapi tidak dalam perjanjian dengan Zhadin, dan daun bentuk gelap tak dikenal (Corbicula sp). Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa ada lebih dari dua spesies Corbicula di Amerika Utara. Hal ini juga muncul mungkin dari shell deskripsi yang diberikan oleh McMahon, bahwa "gelap" nya formulir bisa menjadi varian ecophenotypic varietas "a".
Corbicula juga hadir di Sungai Columbia barat Amerika Utara. Spesimen yang tersedia bagi saya menunjukkan garis menengah, dengan gigi lateral yang tipis seperti berbagai "a".
Periostracum warna tidak terlalu diagnostik, seperti di sebagian besar lokasi yang muda kecil berwarna kuning kehijauan, dan mereka perlahan-lahan gelap sebagai fungsi dari usia dan kimia air.
Saya akan menyarankan bahwa dengan munculnya perjalanan udara luas, masyarakat Asia telah membawa kerang ini dari tanah air mereka ke hampir setiap bagian dari dunia yang mereka telah menetap.

Tiga spesies terdaftar sebagai terjadi di Cina oleh Liu Yueyin (1979) Fauna Ekonomi Cina (moluska air tawar);gambar disertakan di bawah ini untuk referensi

Asia Tenggara dan Hindia
Brandt (1974) angka 26 spesies Corbicula untuk wilayah Thailand, yang paling bervariasi dari satu sama lain dalam cara yang relatif kecil. Ini termasuk spesies C. fluminea, C. baudoni, dan C. largillierti disebutkan di atas, yang C. largillierti dan C. baudoni terdaftar sebagai sinonim. Dia juga tokoh satu Batissa dan tiga spesiesPolymesoda untuk Thailand, serupa dengan yang ditampilkan di bawah ini.
Cyrenobatissa subsulcata (atau Cyrenobatissa maxima), nama Cina Description: http://mkohl1.net/Corbiculidae_files/CTaxian.gif "Da Xian".
Bogan dan Bouchet (1998) menjelaskan species Posostrea corbiculid anomioides endemik Danau Poso di pulau Sulawesi, Indonesia, dimana ia hidup melekat pada bagian bawah blok batu kapur atau daerah lain yang terlindung dari sinar matahari langsung. Luar biasa untuk penyemenan bivalvia, spesies ini menempel dengan baik katup dengan frekuensi yang sama.

Afrika
Pilsbry dan Becquaert (1927) mengutip seorang penulis sebelumnya (Connoly) bahwa "itu akan membutuhkan kenalan intim dengan jenis dan set panjang setiap varietas untuk mengungkap kusut yang luar biasa di mana spesies Afrika Corbicula telah tenun"
Mereka termasuk hanya 4 spesies dalam deskripsi mereka, ditambah satu subspesies tambahan, termasuk C. fluminalis. Selain itu, mereka daftar dua jenis Soleilletia dari Bourguignat.
Kerajaan: Animalia
Filum: Mollusca
Kelas: Bivalvia
Urutan: Veneroida
Keluarga: Corbiculidae
Genus: Corbicula
Spesies: Corbicula fluminea
Rentang Geografis
Kerang Asiatik ditemukan di seluruh Asia, Amerika Utara dan Selatan, Eropa dan sebagian Afrika. Kerang ini terjadi terutama di sungai selatan lintang 40 derajat di belahan bumi utara.
Biogeografi Daerah:
nearctic Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); palearctic Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); oriental Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ); neotropical Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif ( asli Description: http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/gloss_icon.gif).
Habitat
Kerang Asiatik lebih menyukai danau atau sungai yang telah aa substrat berpasir atau kerikil. Namun, mereka juga terletak di bawah batu-batu besar dan dalam silts lembut danau laut. Kerang yang tumbuh subur baik di perairan yang mengalir cepat karena arus pasokan sumber konstan dari makanan partikulat yang mengkonsumsi kerang.
Perairan Bioma: danau dan kolam, sungai dan sungai.
Reproduksi
Kerang Asiatik adalah hermafrodit, dengan genopores tunggal pada setiap sisi tubuh. Reproduksi dan larva terjadi dua kali setahun rilis di musim semi dan di akhir musim panas. Kerang ini diyakini berlatih self-fertilisasi, memungkinkan regenerasi yang cepat ketika populasi koloni koloni rendah.
Perilaku
Permukiman khas dari kerang Asiatic terjadi dengan kepadatan penduduk berkisar dari 100 ke 200 kerang per meter persegi. Namun, populasi dapat tumbuh sebagai besar sebagai kima 3000 per meter persegi. Tampaknya tidak ada kompetisi untuk makanan antara individu-individu dalam spesies, tetapi dalam populasi kepadatan tinggi, persaingan ruang sering penting.
Makanan Kebiasaan
Kerang kerang Asiatik adalah filter-makan. Ini filter organisme mikroskopis, seperti plankton, dari air.
Pentingnya Ekonomi untuk Manusia: Negatif
Kerang menciptakan masalah bagi pembangkit listrik dengan menghalangi sistem ventalation dan katup air intake. Biaya gabungan dari pemadaman, penurunan efisiensi, modal investasi dalam pengendalian peralatan, tenaga kerja dan kimia, melebihi 1 miliar per tahun.
Pentingnya Ekonomi untuk Manusia: Positif
Asiatik kerang merupakan sumber utama makanan dan dipanen oleh manusia di seluruh dunia. Clam, ketika dikeluarkan dari cangkangnya, juga membuat fishbait baik.
Status Konservasi
Secara historis, populasi liar dari Asia kerang dieksploitasi dan dipanen, sejauh itu, secara lokal, kerang sekali dihadapi membahayakan atau kepunahan. Hari ini, kerang yang tumbuh subur di seluruh dunia.


Purposive sampling
Istilah purposive sering diterjemahkan bertujuan, karena purpose artinya maksud atau tujuan; jadi purposive samplingdiartikan sebagai pengambilan sampel secara bertujuan. Ini benar, tapi tidak betul. Beberapa definisi sering menyebutnya sebagai pengambilan sampel “with purpose in mind” (dengan tujuan atau maksud tertentu di hati). Tetapi tujuan tersebut tidak jelas (tujuan apa?). Itu makanya disebut benar tapi tidak betul, karena tak jelas.
Kalau membuka kamus (buka kamus yang “besar” semisal Oxford Advances Learner’s Dictionary), akan tertemukan bahwa memang salah satu arti purpose adalah tujuan. Tapi tentu dalam hal ini bukan itu yang dimaksud, karena tidak ada pengambilan sampel yang tidak punya tujuan, apalagi menelitinya. Jika dibaca lebih cermat kamus tersebut, maka akan ditemukan arti lain dari purpose, antara lain kesengajaan (“intention”), tidak sekedar secara kebetulan (“accidental“); juga berarti alasan (“reason“) tertentu; dan juga tuntutan keadaan tertentu (the requirements of a particular situation) atau, jelasnya, menurut persyaratan tertentu.
Jadi, dapatlah dikatakan bahwa purposive sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya).
Misalnya yang diperlukan sebagai sampel adalah “perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki (bukan bebek dan sejenisnya)”–karena yang sedang dicari (jadi, populasinya) adalah perempuan-perempuan pengguna sepeda motor tipe laki-laki. Hati-hati, populasinya bukan semua pengguna sepeda motor, sepeda motor jenis atau tipe apapun. Hati-hati pula, bukan “pengguna motor: kasus perempuan pengguna motor laki-laki.” Juga hati-hati: bukan pengguna sepeda motor laki-laki: kasus perempuan. Populasinya semua perempuan pengguna sepeda motor laki-laki (artinya, atau definisi operasionlanya: perempuan yangselalu atau sering kali jika bepergian menggunakan sepeda motor jenis itu, apapun yang menjadi latar belakangnya).

Dalam kasus tertentu, Penulis lebih suka menyebut purposive sampling dalam istilah bahasa Jawa sebagai teknik pengambilan sampel secara “njujug“, “menuju langsung ke “tempat” (area, wilayah, lokasi) tertentu yang banyak anggota populasi dimaksud berada.
Jadi, KE…….JAR terus di mana pun sampel berada!
Contoh:
Jika ingin meneliti anak-anak jalanan, datangilah (untuk mengambil sampel) perempatan-perempatan jalan raya. Kenapa? Karena di situ anak-anak jalanan sering melakukan aktivitas ngamen dan meminta-minta. Jadi, jelas tidak perlu dengan teknik area sampling (area geografis dan atau administratif). Maksudnya, memilih-pilih (menyampel) area, lalu dari area-area tersampel itu dicari anak-anak jalanannya. Muspro, mubazir, gitu kira-kira. Sebab, bisa jadi dari area tertentu malah tak tertemukan anak jalanan itu.
Jika ingin meneliti “ayam-ayam kampus” (maaf lho, karena ini sudah “populer” alias diketahui “populi” atau orang banyak) contoh lainnya, datangilah tempat-tempat yang biasa dipakai “praktek lapangan” mereka, bukan di kampus [Dimarahi Rektor, nanti, hehe. Tentu juga, jangan tanya saya di mana mereka ngetem, tentu saja, hehe! Mana tahu?! Eh, belum tahu, belum berkepentingan, sih. Hus, untuk penelitian, maksudnya, bukan kepentingan lain!Heheh . . . Tanya "informan"-nya saja, lah! Informannya siapa, gak tahu juga aku!]. Nah, jadi, lalu, ambillah sampel mereka di atau dari tempat mangkalnya itu.
Dengan cara seperti itu, maka:
(1) Tuntutan mendapatkan sampel yang sesuai atau pas (yang termasuk anggota “anak jalanan” atau “ayam kampus”) pasti tecapai.
(2) “Secara sengaja” (baca: terencana; purposive) mencari anggota populasi “njujug langsung ke tempat tertentu” punya alasan logis, karena jelas lebih efektif dan efisien, daripada mencari-cari ke mana-mana yang belum tentu menemukan apa yang dicari.
Ambil contoh Anda akan meneliti kasus tawuran pelajar. Sudah diketahui umum bahwa yang suka tawuran itu hanya dari beberapa sekolah tertentu saja (antar sekolah tertentu). Jadi, secara sengaja (purposive) Anda lakukan perburuan (hunting) sampel murid yang suka tawuran ke sekolah-sekolah tertentu itu saja, tak perlu semua sekolah dimasuki, atau disampel. Di sekolah itu saja pun mungkin Anda harus cukup lama berakrab-akrab dulu dengan murid-murid sebelum mendapatkan sampel para petawur itu. Jangan begitu datang langsung “to the point” (togmol, kata orang Sunda) mencari dan mewawancarai petawur. Bisa terjebak, salah “tangkap,” dan mendapatkan informasi yang bias. [Hehehe . . ., maaf, jangan suka main "tangkap dulu urusan belakang" kayak oknum polisi-polisi yang tidak profesional--ditangkap, dianggap teroris, lalu dilepas, tak terbukti! Bikin trauma dan stres orang saja!].
Ada pula yang memberi makna purposive sampling itu sebagai pengambilan sampel secara sembarang asal memenuhi persyaratan. Jadi ini akan sama dengan opportunistic (incidental, acidental) sampling. Misal dalam polling (jajag pendapat) seseorang peneliti (observer) mencegat orang-orang yang lewat untuk ditanyai. Barangsiapa sesuai ketentuan (kriteria sampel) maka langsung diambil sebagai sampel, yang tidak memenuhi kriteria dibiarkan lewat. Sekali lagi, cara seperti itu lebih lazim disebut dengan opportunistic (accidental, incidental) sampling (mengambil sampel siapa saja yang kebetulan pas untuk menjadi sampel).
Dalam penelitian kualitatif sampel lazim diambil secara purposive. Ini juga maknanya sama, yakni “njujug,” hanya saja yang dijadikan “jujugan” (tujuan) bukan tempat, melainkan orang (subjek/reponden penelitian). Jelasnya, yang “dituju” adalah orang-orang tertentu yang (dengan alasan atau latar belakang logis) memenuhi persyaratan (tuntutan persyaratan) sebagai “responden” (yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian). Ini hampir mirip dengan informan (narasumber) penelitian. Jangan lupa, bedanya, informan tidak memberikan informasi pribadi, melainkan informasi kelembagaan. Sampel penelitian kualitatif yang purposive tadi, tetap memiliki ciri individual, pribadi. Artinya, keindividuannya itu yang diteliti. Ia tidak mewakili kelembagaan (apapun lembaga, organisasi dsb).
Purposive sampling suka juga disebut judgmental sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan “penilaian” (judgment) peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sampel. Oleh karenanya agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel dimaksud (tentu juga populasinya) agar benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan penelitian (memperoleh data yang akurat).
Berapa banyak sampel purposif diambil? Rumusnya sederhana: sebanyak yang dianggap cukup memadai untuk memperoleh data penelitian yang mencerminkan (representatif) keadaan populasi. Maksudnya, data dari sampel purposif tersebut dianggap sudah bisa menggambarkan (menjawab) apa yang menjadi tujuan dan permasalahan penelitian. Tentu tidak bagus kalu cuma satu dua orang. Sebanyak mungkin jauh lebih baik. Angka pasti? Tidak ada. Perhatikan perkiraan “anggota populasi” yang ada di “area” (contoh: tempat mangkal anak jalanan dan ayam kampus tadi) ada berapa banyak, lalu ambillah sebanyak mungkin).
Hati-hati dengan kasus “ayam kampus.” Bisa jadi ini termasuk jenis populasi tidak jelas atau tidak pasti (tidak jelas keberadaannya dan tidak pasti jumlahnya). Dalam kasus ini gunakan teknik sampling untuk populasi tak jelas/tak pasti (uraian berikut).

Sunday, November 13, 2011

Biodiversitas Jeruk Manis di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia yang termasuk negara tropis berada pada kawasan yang dilalui garis katulistiwa merupakan habitan yang mendukung pertumbuhan buah jeruk, dan dapat ditanami buah jeruk hingga ketinggian 2.000 m dpl, dengan temperature optimal pertumbuhannya antara 25-30oC (Pracaya, 1992). Potensi dan peluang pengembangan tanaman jeruk manis di Indonesia sangat besar, baik ditinjau dari potensi lahan, keragaman jenis, maupun dari aspek petani dan teknologi. Diketahui bahwa buah jeruk manis memiliki prospek ekonomi yang lebih baik bila dijual tidak hanya dalam bentuk buah segar, ditambah lagi karena kulitnya lebih sukar dikupas dibandingkan dengan jeruk keprok diadakan produk olahan yang dapat dikembangkan antara lain bahan pewarna, tepung kulit buah, juice, cocktail dan sirup buah jeruk. Produk olahan yang memiliki prospek ekonomi dari sisi profit yang terbesar adalah sirup buah dan cocktail. Sedangkan dari sisi pemanfaatan produk samping (kulit buahnya) masih memerlukan banyak kajian ulang (Kastaman, 2007).
Sesudah perang dunia ke II di Indonesia telah banyak ditanaman varietas jeruk manis, tetapi akhir-akhir ini tanaman jeruk tidak begitu pesat perkembangannya. Penyebabnya bermacam-macam, di antaranya karena serangan penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), penyakit akar, pemasarannya pun kalah dengan jeruk keprok, jeruk siem, dan lain-lain.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagamana distribusi jeruk manis (Citrus aurantium L.) di Indonesia ?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jeruk manis (Citrus aurantium L.) di Indonesia agar produksi buahnya meningkat ?
3. Apa saja varietas jeruk manis (Citrus aurantium L.) yang ada di Indonesia ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BOTANI JERUK MANIS (Citrus sinensis L.)
A. Taksonomi
Jeruk manis, disebut juga jeruk peras, mempunyai nama ilmiah Citrus sinensis (L.) Osbeck. Sinonim : Citrus aurantium L. var. sinensis L. Jeruk manis ini termasuk dalam klasifikasi berikut ini :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
Genus : Citrus
Spesies : Citrus sinensis (L.) Osbeck
Banyak jeruk yang dikawinsilangkan sehingga terjadi hibrid, di antaranya yaitu mandarin dikawinkan dengan jeruk manis menghasilkan jeruk tangor, Poncirus dikawinkan dengan jeruk manis menghasilkan jeruk citrange.

B. Morfologi
jeruk manis termasuk kelas Dicotyledoneae (berkeping dua), mempunyai ciri-ciri :
 Dapat hidup bertahun-tahun
 Perakarannya dalam
 Mempunyai akar tunggang dan akar serabut
 Dapat dikembangkanbiakkan secara vegetatif (cangkok) maupun generatif (dengan biji)
 Mahkota daun bulat dan
 Kerimbunan sedang.
Buah jeruk manis berukuran besar, tangkainya kuat. Bentuknya bulat, bulat lonjong, atau bulat rata (papak) dengan bagian dasar bulat, ujungnya bulat atau papak, bergaris tengah 4-12 cm. buah yang masak berwarna oranye, kuning, atau hijau kekuningan, berbau sedikit harum, agak halus, tidak berbulu, kusam, dan sedikit mengilat. Kulit buah tebalnya 0,3 – 0,5 cm, dari tepi berwarna kuning atau oranye tua dan makin ke dalam berwarna putih kekuningan sampai putih, berdaging, dan kuat melekat pada dinding buah. Di dalam kulit buah ada segmen (bagian buah) yang jumlahnya 8-13 buah mengelilingi sumbu yang kuat. Setiap segmen mempunyai kulit tipis, kuat, putih transparan (jernih), dan melekat satu sama lain dengan kuat. Di dalam segmen segmen ada daging (pulp) yang berwarna kuning, oranye kekuningan, atau kemerahan. Berbau sedikit harum, rasanya manis atau sedikit asam tetapi segar. Pulp itu terdiri dari gelembung kecil yang kedua ujungnya runcing atau tumpul, berisi cairan, dan letaknya bebas. Kelopak buah berbentuk seperti bintang dengan 3-6 segmen berbentuk segitiga, bergaris tengah 1-1,5 cm.

C. Komposisi Buah
Komposisi buah jeruk manis terdiri dari bermacam-macam, diantaranya air 70-92% (tergantung kualitas buah), gula, asam organik, asam amino, vitamin, zat warna, mineral, dan lain-lain.





BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Distribusi Jeruk Manis di Indonesia
Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis berasal dari Asia Timur.
Buah ini berasal dari banyak tempat di sekitar Mediterania, dari Afrika dan Brasil. Tempat asalnya adalah India, Tiongkok Selatan dan Indonesia. Pelaut Portugis membawa buah-buahan ini ke Eropa untuk pertama kalinya pada abad 17.
Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Jeruk manis (Citrus aurantium L.) berasal dari India timur laut, Cina selatan, Birma utara, dan Vietnam. Pada saat sekarang jeruk manis sudah banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis.
Distribusi jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu dan Pacitan (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi. Dimana Indonesia menghasilkan 78.674 MT. Namun untuk area produksi di Jawa Timur, utamanya jeruk manis banyak dihasilkan dari kawasan Malang (BPS, 2008).
Sedangkan Pacitan adalah kota pertama, sebagai potensi atau peluang yang cukup menjanjikan dalam pengembangan usaha pertanian jeruk manis ini, dilihat dari keuntungan yang diterima. Kedua dari segi ekonomis Jeruk Manis Pacitan memiliki nilai jual yang relatif cukup tinggi. Ketiga jeruk manis memiliki nilai tambah dari hasil pengolahannya menjadi minuman sari buah Jeruk Manis Pacitan.

3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jeruk Manis (Citrus Aurantium L.) di Indonesia Dalam Peningkatan Hasil Produksi Buah.
Pertumbuhan jeruk manis di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil produksi buahnya. Tanaman jeruk manis, dan juga jeruk manis lainnya, dapat di tanam di daerah antara 400 LU dan 400 LS. Namun tanaman jeruk paling banyak terdapat di daerah 200 - 400 LU dan 200 - 400 LS. Di sekitar Laut Tengah, daerah 440 LU, masih merupakan daerah yang cocok untuk tanaman jeruk. Jeruk manis tumbuh dan menghasilkan buah dengan baik jika ditanam pada daerah subtropis dengan suhu optimal 250-300C. Di atas dan di bawah temperatur optimal pertumuhannya akan berkurang. Apabila temperatur di atas 380C atau di bawah 130C kemungkinan pertumbuhannya akan terhenti. Namun, ada juga tanaman jeruk yang masih bisa bertahan sampai temperatur 500C atau sedikit di bawah 00C. Di daerah subtropis, produksi jeruk lebih tinggi dari pada di daerah tropis. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh iklim yang berbeda atau karena faktor-faktor lain yang dilakukan lebih intensif, seperti pemupukan, pengairan, pengendalian hama penyakit dan lain-lain. Menurut Savage, produksi jeruk di daerah subtropis dapat mencapai 36 – 40 ton per hektar, sedangkan di daerah tropis hanya mencapai 13 – 22 ton per hektar.
Tanaman jeruk manis ditanam diberbagai jenis tanah, dari tanah pasir kasar sampai tanah liat berat. Tanah tidak boleh tergenang air. Didaerah yang tergenang air harus segera dikeringkan, atau menanamnya pada tanah yang ditinggikan. Drainase yang baik sangat perlu untukmemperoleh hasil yang tinggi. Tanah yang baik untuk tanaman jeruk yaitu bila berasal dari endapan yang subur, cukup dalam dan tidak beragam. Walaupun tanaman jeruk bisa ditanam ditanah berat, tetapi lebih baik bila ditanam di tanah ringan sampai sedang, yang erasi (peredaran udara) cukup baik, gembur, cukup dalam, air bisa merembes, dan cukup bahan organik.
Sinar matahari memiliki peranan penting dalam kehidupan tanaman jeruk. Tanaman jeruk memerlukan sinar matahari yang penuh, bila terlindung akan berkurang produksinya. Tanaman jeruk bisa menghasilkan buah yang lumayan bila memperoleh sejumlah panas tertentu. Jeruk manis Navel dan Valencia memerlukan jumlah panas yang sedang; jeruk peras grape fruit memerlukan jumlah panas yang tinggi; jeruk Eureka dan Lisbon (kultivar lemon) memerlukan jumlah panas yang rendah.
Di daerah subtropis, tanaman jeruk manis pada umumnya di tanam di daerah yang lebih rendah. Seagai contoh di daerah California, jeruk di tanam di daerah dengan ketinggian kurang dari 700 m, di Spanyol kurang dari 250 m, sedangkan di Indonesia banyak di tanam di daerah yang tinggi, misalnya di daerah Kabanjahe, Ngablak, Tawangmangu yang ketingginnya lebih dari 1000 m.
Air merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman jeruk manis, pembentukan buah, fotosintesis, dan lain lain. Air sebagai komponen semua jaringan tanaman. KAndungan air pada daun dan tunas sekitar 50% – 70%, pada buah lebih kurang 85%, dan pada akar kira-kira 60% - 85%. Air melarutkan unsur hara dan membawanya ke seluruh tubuh tanaman.Selain itu air diperlukan untuk memelihara turgor tanaman, mengatur kedaan panas tanaman, dan berperan serta dalam pembentukan tubuh tanaman dan aktivitas kehidupan sel-sel dalam semua jaringan tanaman.
Curah hujan sekurang-kurangnya 700 mm tiap tahun, yang baik bila merata. Walaupun curah hujan 1.250 – 1.850 mm tetapi kalau turunnya tidak merata, maka perlu adanya tambahan pengairan. Bila hujan terlalu banyak mungkin juga akan timbul penyakit (misalnya jamur upas), atau tergenang terlalu lama sehingga tanaman dapat mati.
Kebun jeruk yang sering dilanda angin yang cukup besar, perlu ditanami tanaman penahan angin. Angin dengan kecepatan 24 – 32 km per jam menyebabkan buah jeruk seperti tergores; kecepatan 40 – 48 km per jam buah akan terguncang-guncang, mungkin juga ada yang rontok; kecepatan 48 – 64 km per jam buah yang masak akan rontok semua. Untuk menghindari hembusan angin, sebaiknya di sekeliling kebun ditanami tanaman penahan angin. Tanaman penahan angin tersebut ditanam terlebih dahulu dari pada tanaman jeruk sehingga dapat melindugi tanaman dari hembusan angin.
Dengan memenuhi sesuai aturan dan beberapa faktor seperti diatas maka diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi buah jeruk manis. Sehingga komoditas jeruk manis di Indonesia meningkat dan distribusinya berkembang dengan baik.

3.3 Varietas Jeruk Manis
Jeruk manis dibagi menjadi 4 golongan, yaitu jeruk manis biasa (common orange, blond orange), jeruk manis pusar (navel orange), jeruk manis merah darah (pigmented orange) dan jeruk manis tidak asam (acidless orange).
Varietas jeruk manis cukup banyak, diantaranya jeruk manis nanas, puser, merah data, tidak asam, batu, Hamlin, Shamouti, Tenerife, Thomson, Australia, Brasil, dan Sunkist. Seringkali jeruk manis disebut pula dengan nama daerah asalnya, misalnya jeruk manis batu karena asalnya dari Batu (Pracaya, 2003).
Menurut AKK (1994) jenis-jenis jeruk yang ada di Indonesia cukup banyak, antara lain sebagai berikut :
1. Jenis jeruk manis (Citrus aurantium L.)
2. Jenis jeruk keprok (Citrus reticula Blaco atau Citrus nobilis)
3. Jenis jeruk besar (Citrud maxima Merr, Citrus grandis Osbeck)
4. Jenis jeruk lemon (Citrus limon Linn)
5. Jenis jeruk lime (Citrus aurantifolia Swingle)
6. Jenis jeruk sitrun (Citrus medica Limnaeus)
7. Jenis jeruk grape fruit (Citrus paradisi Mactadijen)
8. Jenis jeruk hybrid.


BAB IV
KESIMPULAN

1. Distribusi jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu dan Pacitan (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara).
2. Pertumbuhan, hasil produktivitas dan distribusi jeruk manis dipengaruhi oleh iklim, temperatur, tingkat penyinaran matahari, curah hujan, kelembaban, air dan angin.
3. Jeruk manis tumbuh dan menghasilkan buah dengan baik jika ditanam pada daerah subtropis dengan suhu optimal 250-300C dibandingkan dengan jeruk manis yang ada di daerah tropis.
4. Varietas jeruk manis menurut Pracaya (2003) ada 11 varietas. Sedangkan menurut AKK (1994) ada 8 varietas.



DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16346/3/Chapter%20II.pdf diakses pada tanggal 15 April 2011. http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=168:lahan-untuk-usaha-tani-tanaman-jeruk&catid=45:buletin-volume-i-nomor-i-tahun-2006&Itemid=53 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://health.groups.yahoo.com/group/dokter_umum/message/17633 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/Citrus_%C3%97_sinensis diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/Jeruk diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://www.epochtimes.co.id/keluarga.php?id=418 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://student-research.umm.ac.id/index.php/dept_of_agribisnis/article/view/1547 diakses pada tanggal 15 April 2011.
http://migroplus.com/brosur/Budidaya%20jeruk.pdf diakses pada tanggal 15 April 2011.

Follow Twitterku

Tukar Link Blog Yuk